Jumat, 21 Februari 2020

Ilmu Cuaca dan Iklim Serta Pemanfaatan Teknologi Pengeringan Sederhana untuk Lindungi Mata Pencaharian

Solar dryer diperkenalkan kepada warga di Negeri Lima sebagai bentuk adaptasi perubahan iklim. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Rapik Soelisa, warga sekaligus perangkat desa di Negeri Lima, Kabupaten Maluku Tengah menceritakan pengalamannya dalam mengikuti pelatihan informasi cuaca dan iklim yang ia dapatkan dari USAID APIK. Pelatihan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan untuknya dan ilmu yang didapatkan terus dia terapkan sampai saat ini.

“Saya terlibat dengan kegiatan USAID APIK sejak tahun 2017. Saya membantu dan menyediakan hal-hal yang diperlukan tim dalam menjalankan program-program API-PRB (adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana – red) di Negeri Lima,” demikian tutur Rapik saat ditanya mengenai keterlibatannya dalam kegiatan USAID APIK. Tidak hanya itu, Rapik juga terlibat sebagai peserta berbagai kegiatan sehingga dia ikut merasakan langsung berbagai manfaat baik sebagai staf pemerintah Negeri Lima maupun sebagai individu, bagian dari masyarakat setempat.

Rapik aktif mengikuti kegiatan bersama USAID APIK, termasuk saat menyusun kajian risiko iklim bersama warga di wilayahnya. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Rapik aktif mengikuti kegiatan bersama USAID APIK, termasuk saat menyusun kajian risiko iklim bersama warga di wilayahnya. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Masyarakat Negeri Lima pada umumnya merupakan petani musiman yang menanam tanaman umur panjang seperti pala dan cengkeh yang merupakan ciri khas tanaman Maluku. Berdasarkan kajian risiko iklim yang dilakukan pada tahun 2017 secara partisipatif di Negeri Lima, masyarakat menyebutkan bahwa curah hujan yang tinggi kerap membuat hasil panen pala dan cengkeh cepat membusuk. Mereka sepakat bahwa diperlukan solusi alternatif berupa teknologi pengering yang dapat digunakan oleh petani dalam kondisi cuaca apapun tanpa mengurangi kualitas.

USAID APIK memperkenalkan penggunaan solar dryer sebagai teknologi adaptasi terhadap dampak perubahan iklim sederhana untuk penjemuran berbasis tenaga surya. Teknologi sederhana ini digunakan untuk pengeringan hasil panen cengkeh dan pala yang menjadi salah satu komoditas utama warga setempat. Alat solar dryer tersebut diakui Rapik telah menolong para petani termasuk dirinya sendiri. “Apabila musim hujan melanda, hasil panen warga tidak mudah rusak. Kami bisa biarkan itu di luar karena tidak takut basah. Kalau dulu tiba-tiba bisa turun hujan dan pala atau cengkeh yang sedang kami jemur pun basah,” kata Rapik menjelaskan manfaat yang dia rasakan. Selain dapat melindungi dari hujan, solar dryer juga melindungi pala dan cengkeh yang dijemur dari debu atau kotoran karena letaknya yang lebih tinggi dari permukaan jalan serta sifatnya yang tertutup. Sebelumnya, warga setempat pada umumnya menjemur pala dan cengkeh dengan cara menggeletakannya langsung di permukaan tanah beralaskan tikar.

Hasil panen pala pada umumnya dikeringkan langsung di tanah beralaskan tikar. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Hasil panen pala pada umumnya dikeringkan langsung di tanah beralaskan tikar. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Secara teori, lembaran plastik ultraviolet (UV) yang digunakan sebagai penutup alat penjemur ini dapat memerangkap suhu sehingga dapat mempersingkat proses pengeringan. Selain itu, lembar plastik UV juga dapat melindungi hasil panen dari sinar UV yang dapat merusak produk seperti warna, komponen kimia, aroma, dan lain-lain. Rapik berujar bahwa dia sudah membandingkan hasil yang diperoleh dari teknik penggunaan solar dryer dengan hasil dari penjemuran konvensional. “Harus saya akui, mutu kualitas pala dan cengkeh yang dari solar dryer itu lebih baik. Bahkan dari ukuran itu dia terjaga dengan baik, tidak mengerut karena sinar matahari langsung, dan bobotnya pun lebih baik,” jelasnya.

Biasanya, Rapik menjual pala atau cengkeh seharga Rp 60.000-70.000/kg, tergantung harga pasar. Bunga (fuli) dari tanaman pala pun bisa dia keringkan dan dia jual. Bahkan harga jual bunga ini lebih mahal, hingga di kisaran Rp 200.000/kg. Beliau bercerita, “Saya pernah dapat informasi bahwa untuk menjual pala dan cengkeh dengan harga lebih tinggi, kualitas ekspor, maka kita juga dituntut untuk menghasilkan produk pengeringan yang berkualitas juga. Solar dryer ini sebenarnya membantu untuk mendapatkan kualitas yang baik tersebut.”

Rapik memisahkan bunga (fuli) dari dari hasil panen pala untuk dikeringkan. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Rapik memisahkan bunga (fuli) dari dari hasil panen pala untuk dikeringkan. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Meski demikian, solar dryer yang tersedia saat ini jumlahnya masih sedikit dan kapasitasnya terbatas. Teknologi dan desain solar dryer yang diperkenalkan di masyarakat Negeri Lima pun terhitung sederhana karena strukturnya menggunakan kayu. Walau biaya bahan tidak terlalu tinggi, warga perlu memperhitungkan biaya tenaga kerja jika ingin mereplikasinya. Dia berharap nantinya bisa menambah unit alat tersebut di masa depan baik itu dari biaya pribadi maupun dari bantuan dan penggunaan dana desa.

Rapik sekarang dapat mengeringkan hasil panen palanya secara lebih efektif dengan adanya solar dryer. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Rapik sekarang dapat mengeringkan hasil panen palanya secara lebih efektif dengan adanya solar dryer. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Tidak hanya pala dan cengkeh, Rapik juga selama ini mengandalkan pendapatan dari kegiatan bercocok tanam sayur di kebunnya. Ia merasa sangat senang dengan ilmu tentang informasi cuaca dan iklim yang ia peroleh berkat mengikuti pelatihan dari USAID APIK. “Dengan mengetahui infromasi cuaca iklim, itu sangat membantu para petani termasuk saya untuk menyesuaikan waktu cocok tanam sehingga tidak menimbulkan kerugian,” katanya. Ia menambahkan, “Sebelum saya mengetahui mengenai informasi cuaca dan iklim, saya pernah mengalami kerugian yang cukup besar karena bercocok tanam pada saat cuaca yang kurang tepat. Setelah mendapat pelatihan, saya memutuskan untuk menyesuaikan waktu tanam dengan iklim dan cuaca.”

Pemanfaatan solar dryer dan informasi mengenai cuaca dan iklim ini telah membantu Rapik dalam mencegah kerugian akibat perubahan iklim yang mengancam mata pencahariannya. Ia berharap agar semua ilmu yang didapatkan dari USAID APIK dapat terus ia manfaatkan.

(Penulis: Devirisal Djabumir, Field Coordinator Kabupaten Kepulauan Aru – USAID-APIK; Nyoman Prayoga, Communications Specialist: Knowledge Management and Reporting – USAID-APIK)