Kamis, 20 Februari 2020

USAID APIK Rayakan Perjalanan Pembangunan Ketangguhan Iklim Indonesia

Kiri-Kanan: Prof. Dr. Edvin Aldrian (Ilmuwan Perubahan Iklim) - Raditya Jati, S.Si, M.Si (Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana, BNPB) - Amin Budiarjo (USAID Indonesia), Paul Jeffery (Chief of Party USAID APIK), Dr. Ir. Ruandha Agung Sugardiman, M.Sc (Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim , KLHK) - Ari Mochamad (Climate Adaptation Governance USAID APIK), Agus Hernadi (Deputy Chief of Party USAID APIK), Prita Laura (Moderator)

Jakarta, 18 Februari 2020 – USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK), bersama Pemerintah Indonesia dan perwakilan mitra, secara resmi menutup dan merayakan keberhasilan selama empat tahun kemitraan dalam membangun ketangguhan iklim dan bencana di Indonesia. Kolaborasi ini telah mampu mengajak pemerintah baik di tingkat nasional dan daerah untuk mengalokasikan Rp 49 miliar untuk meningkatkan kapasitas ketangguhan iklim dan bencana di Indonesia, dan telah membantu lebih dari 40.000 orang di Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, dan Maluku untuk mampu beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim dengan lebih baik. Sebanyak 138 orang, termasuk mitra, masyarakat, dan media, hadir dalam perayaan bertajuk “Climate Resilience and Journey to Self-Reliance” ini.

Dr. Ir. Ruandha Agung Sugardiman, M.Sc. Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (KLHK) dan Ryan Washburn (Direktur USAID Indonesia) bertukar cendera mata.

Direktur USAID Indonesia, Ryan Washburn menyatakan komitmen pemerintah AS dalam mendukung Pemerintah Indonesia untuk mencapai kesejahteraan ekonomi yang inklusif dan pembangunan yang berkelanjutan.

“Kemitraan kita melindungi masyarakat dan keluarga di Indonesia, menjaga mata pencaharian mereka dari ancaman global perubahan iklim, demi generasi masa depan,” demikian diungkapkan Ryan Washburn saat membuka acara.

Melalui kegiatan ini, USAID APIK merayakan komitmen pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pembangunan ketangguhan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim dan bencana yang telah berjalan sejak tahun 2016. Dijelaskan oleh Paul Jeffery selaku Chief of Party, USAID APIK bersama dengan pemerintah, sektor swasta, dan para pihak lainnya, bekerja secara terpadu dari tingkat nasional sampai tingkat tapak, di tiga lanskap di tiga provinsi; lanskap Daerah Aliran Sungai (DAS) di Jawa Timur, lanskap pesisir di Sulawesi Tenggara, dan lanskap pulau-pulau kecil di Maluku. Ketiga lanskap ini mewakili potret lanskap Indonesia, sehingga kegiatan-kegiatan USAID APIK di tiga lanskap ini bisa menjadi rujukan bagi wilayah-wilayah lainnya di Indonesia.

“Kolaborasi dilakukan untuk bersama-sama mengembangkan basis ilmiah, memilih pilihan-pilihan adaptasi, mengintegrasikannya dalam kebijakan, perencanaan, dan penganggaran, sampai akhirnya dilakukan kegiatan-kegiatan rintisan aksi adaptasi,” ungkap Paul dalam sambutannya.

Paul Jeffery, Chief of Party USAID APIK membuka acara.

Kolaborasi ini telah memperkuat proses dan pengelolaan risiko perubahan iklim baik dalam kegiatan operasional perusahaan untuk mengurangi biaya operasional dan melindungi supply chain mereka, serta mendukung pemerintah di level desa untuk mengambil keputusan yang bisa menyelamatkan jiwa serta melindungi mata pencaharian masyarakat dari risiko dan bencana yang disebabkan oleh iklim yang terus berubah.

Berbagai capaian USAID APIK di tingkat nasional telah berhasil diupayakan melalui kerja sama dan dukungan berbagai pihak, khususnya dalam mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan Indonesia. Hal ini tergambar dengan berhasil dirumuskannya RPJMN 2020-2024, di mana isu adaptasi perubahan iklim dan pencegahan bencana masuk dalab Bab 6 dan telah mendorong Pemerintah Indonesia untuk mengalokasikan 43 triliun rupiah untuk upaya adaptasi perubahan iklim.

“Ada empat sektor prioritas perubahan iklim dalam RPJMN 2020-2024 yaitu kelautan pesisir, air, pertanian, dan kesehatan,” demikian disampaikan Dr. Ir. Arifin Rudiyanto, M.Sc, Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas), dalam sambutan tertulisnya.

Hal ini selaras dengan upaya USAID APIK dalam mendukung proses pengintegrasian aksi adaptasi dan bukti kerja keras pemerintah yang telah membuka jalan bagi Rencana Aksi Nasional – Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) yang lebih baik.

“Dokumen RPJMN 2020-2024 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden nomor 18 tahun 2020 merefleksikan perhatian pemerintah yang besar padda isu perubahan iklim, di mana salah satu babnya secara khusus membahas lingkungan hidup, ketahanan bencana, dan perubahan iklim,” ungkap Dr. Ir. Ruandha Agung Sugardiman, M.Sc, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang secara tegas telah menjelaskan komitmen pemerintah dalam isu ketahanan bencana dan perubahan iklim.

Photo exhibition yang menggambarkan perjalanan USAID APIK sejak tahun 2016.

Dalam kesempatan ini, Ruandha juga mengajak para pihak bertanggung jawab dan turut serta melanjutkan capaian-capaian yang sudah diwujudkan melalui kolaborasi USAID APIK dengan banyak mitra.

Tidak hanya pemerintah, pengendalian perubahan iklim juga memerlukan peran swasta, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan masyarakat luas lainnya,” tambahnya.

USAID APIK hanya salah satu contoh sukses dari berbagai inisiatif USAID di Indonesia, yang menunjukkan kemitraan yang kuat antara kedua negara. USAID saat ini sedang dalam proses menyusun Strategi Kerja Sama Pembangunan yang baru untuk tahun 2020-2025 dan akan terus berkolaborasi dengan mitra-mitra Indonesia dalam penyusunan dan pelaksanaan program di masa yang akan datang.

___

Ditulis oleh: Stella Yovita Arya Puteri – Communications Specialist for Media and Outreach USAID APIK