Kamis, 23 Januari 2020

Pemerintah AS dan Provinsi Jawa Timur Rayakan Empat Tahun Kolaborasi Peningkatan Ketangguhan Masyarakat terhadap Dampak Iklim dan Bencana di Tujuh Kabupaten/Kota

Penyerahterimaan dokumen dari USAID APIK kepada pemerintah daerah.

Surabaya, 21 Januari 2020 – USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) mengadakan acara diseminasi hasil dan penutupan program yang secara resmi mengakhiri perjalanannya di Provinsi Jawa Timur. Melalui kegiatan ini, bersama dengan para mitra, USAID APIK merayakan empat tahun upaya peningkatan ketangguhan iklim di tujuh Kabupaten/Kota di Jawa Timur, di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas; 7 kota daerah tersebut adalah: Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Malang, Blitar, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Dalam acara penutupan program ini, hadir; Paul Jeffery sebagai Chief of Party Program USAID APIK, Ruandha Agung Sugadirman sebagai Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Dyah Susilowati sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur. Perwakilan Pemerintah AS, Mark McGovern selaku Konsulat Jenderal AS di Surabaya juga hadir memberikan apresiasi atas kolaborasi ini.

Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Mark McGovern bertukar cendera mata dengan Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ruandha Agung Sugadirman.

“Amerika Serikat dan Indonesia menghadapi tantangan serupa terkait cuaca seperti banjir, kebakaran hutan, dan longsor. Kami mengakui perlunya mengambil langkah proaktif untuk mencegah dan beradaptasi terhadap ancaman-ancaman tersebut dan dampaknya. Kami gembira bahwa kerja sama kami dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sektor swasta, dan masyarakat sipil melalui program-program Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) telah memberdayakan kemandirian dan ketangguhan ekonomi dari 18.000 anggota masyarakat dan akan memastikan kesejahteraan inklusif di kawasan ini dn Indonesia dalam jangka panjang,” ungkap Mark.

Beragam upaya telah dilakukan untuk membantu pemerintah daerah mengelola risiko bencana di Jawa Timur Provinsi Jawa Timur yang rentan terhadap berbagai risiko iklim dan cuaca seperti banjir, longsor, dan erosi pantai. USAID APIK bermitra dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, lembaga penelitian, sektor swasta dan anggota masyarakat untuk meningkatkan ketangguhan daerah dan masyarakat terhadap risiko terkait iklim maupun bencana alam seperti banjir, tanah longsor, erosi pantai, dan kondisi cuaca ekstrem.

Peningkatan ketangguhan terhadap dampak iklim dan bencana dimulai dengan kajian kerentanan untuk memetakan risiko iklim dan menentukan rencana aksi adaptasi perubahan iklim tingkat desa. Contohnya, USAID APIK telah mendukung terbentuknya rencana kontinjensi (renkon) untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi banjir bandang di Mojokerto. Sementara itu, dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi cuaca dan iklim, USAID APIK bekerja sama dengan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengadakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk petani tebu di Desa Wonokerto, Kabupaten Malang yang mengintegrasikan penggunaan informasi cuaca dan iklim dalam praktik budidaya. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana, perangkat peringatan dini banjir berbasis komunitas atau Early Warning System (EWS) juga telah dipasang Desa Kalikatir, Begaganlimo, dan Dilem, di tepi Sungai Klorak, Mojokerto. USAID APIK juga berkolaborasi aktif dengan sektor swasta, seperti yang sudah diinisasi di Desa Ngrejo, Kabupaten Blitar, yaitu kolaborasi dengan PT. Cargill Indonesia dan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) untuk mengembangkan kandang percontohan ayam petelur yang cerdas iklim yang dilengkapi dengan pusat pembelajaran bagi para peternak.

Sambutan Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana, BNPB, Dr. Raditya Jati, S.Si, M.Si

Sebagai mitra, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga turut hadir merayakan kolaborasi USAID APIK bersama beragam pemangku kepentingan di Jawa Timur ini. Raditya Jati, selaku Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB menyampaikan bahwa sinergi antar pihak dalam membangun ketangguhan adalah amanat kerangka global, di mana pemerintah daerah menjadi kunci keberhasilan upaya adaptasi terhadap dampak iklim dan bencana di tengah masyarakat.

“Seluruh kepala daerah perlu memahami risiko bencana, karena pemerintah daerah merupakan pemegang peranan penting dalam pembangunan ketangguhan masyarakat mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga ke tingkat desa. Maka dari itu, dibutuhkan komitmen dan sinergi dalam mewujudkan masyarakat tangguh,” imbau Raditya dalam sambutannya.

Setelah empat tahun kemitraan, USAID secara resmi menyelesaikan program APIK pada tahun 2020. Kolaborasi ini telah berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas; lebih dari 8.000 orang masyarakat dan 334 staf pemerintah daerah yang kini lebih siap untuk adaptasi iklim dan pengurangan risiko bencana. Pemerintah daerah juga telah berkomitmen dalam mendukung rencana aksi ketangguhan, dengan total investasi lebih dari 8 milyar rupiah. USAID akan terus berkolaborasi dengan beragam mitra di Indonesia dalam mendukung pemerintah siapkan masyarakat yang berketangguhan.

____

Ditulis oleh: Stella Yovita Arya Puteri – Communications Specialist: Media & Outreach USAID APIK