Kamis, 19 Desember 2019

Peternak Ayam Petelur di Blitar yang Tangguh Iklim

Rofi Yasifun, peternak ayam petelur di kandang ayam cerdas iklim Blitar telah merasakan manfaat dari hasil kolaborasi antara USAID APIK, Cargill Indonesia, dan PPRN. Foto: Dokumentasi USAID APIK
Rofi Yasifun, peternak ayam petelur di kandang ayam cerdas iklim Blitar telah merasakan manfaat dari hasil kolaborasi antara USAID APIK, Cargill Indonesia, dan PPRN. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Sebagai salah satu pusat produksi telur terbesar di Indonesia, Kabupaten Blitar di Provinsi Jawa Timur mampu memenuhi 70% dari kebutuhan telur untuk Jawa Timur dan berkontribusi sebanyak 30% dari kebutuhan telur ayam Nasional. Di tahun 2018, jumlah populasi ayam petelur di Kabupaten Blitar mencapai 15.365.100 ekor dengan jumlah produksi telur sebanyak 155.802 ton. Sebagian besar peternakan ayam petelur berada di Kecamatan Srengat, Ponggok, Kademangan, Wonodadi, Kanigoro, dan Udanawu.

Meski peluang dan potensi komoditas telur ayam di Kabupaten Blitar cukup menjanjikan, para peternak masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah dampak iklim dan risiko bencana alam terhadap usaha budidaya mereka. Kondisi cuaca yang ekstrem berdampak cukup besar pada produksi telur di Blitar. Cuaca yang terlalu panas, angin kencang dan/atau hujan deras turut memberikan dampak pada produktivitas ayam petelur, selain rendahnya higienitas kandang yang telah memberi dampak pada penurunan kualitas telur, dan meningkatkan risiko penyakit pada ayam petelur. Di sisi lain, keberadaan peternakan ayam di Blitar berlokasi di wilayah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan kekeringan, juga turut meningkatkan kerentanan peternak.

Penurunan produksi telur akan berdampak pada bisnis lain dalam rantai nilai/value chain ayam petelur. Misalnya, produksi yang lebih rendah dan peternak yang memperoleh pendapatan lebih rendah akan memengaruhi penurunan permintaan terhadap pakan ternak. Dengan jumlah peternak ayam di Kabupaten Blitar yang cukup besar (90% di antaranya adalah peternak skala kecil dengan kurang dari 10.000 ayam per peternak), merupakan pasar strategis bagi perusahaan pakan ternak.

Menyadari dampak iklim bagi keamanan pasar produk pakan ternak, PT Cargill Indonesia, sebagai salah satu pemain utama produk pakan ternak, melihat adanya kebutuhan akan penguatan ketangguhan peternak terhadap dampak bencana alam, melalui pelatihan, peningkatan kesadaran, dan pengadaan kandang percontohan “cerdas iklim” yang mendukung peternak dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem dengan penggunaan air yang lebih efisien. USAID melalui proyek Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) berkolaborasi dengan PT Cargill Indonesia dan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) dalam upaya meningkatkan ketangguhan peternak ayam terhadap dampak iklim dan cuaca. Kajian kerentanan pada Brantas Hulu yang telah dilakukan APIK mendasari inisiatif ini, di mana hasilnya menunjukkan akan adanya peningkatan suhu, badai, musim hujan yang lebih singkat dan instensif, serta musim kemarau panjang di wilayah Blitar dan sekitarnya.

Sebagai implementasi dari kolaborasi ini, Cargill mendanai pengembangan kandang ayam percontohan yang adaptif terhadap perubahan iklim, sementara PPRN berkontribusi menyediakan lahan dan infrastruktur pendukung untuk pusat pembelajaran yang menyatu dengan lokasi kandang percontohan. Kedepannya, para peternak dapat memanfaatkan keberadaan pusat pembelajaran ini untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan beradaptasi terhadap perubahan iklim serta mengurangi risiko bencana alam (seperti peningkatan suhu, hujan ekstrem, angin kencang) yang dapat memengaruhi produksi telur.

“Sesuai dengan kajian yang kami lakukan bersama USAID APIK dan PPRN, kandang dibuat dengan mempertimbangkan kondisi setempat dan menggunakan bahan yang mudah didapat di wilayah ini. Untuk menyempurnakannya, kompleks belajar yang komprehensif disediakan berdampingan dengan kandang agar mempermudah para peternak mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka,” jelas Agung Baskoro, Corporate Responsibility Lead, Cargill Indonesia.

Perbandingan kandang ayam dengan inovasi yang lebih modern (kiri) dan yang tradisional (kanan). Foto: Dokumentasi USAID APIK

Perbandingan kandang ayam dengan inovasi yang lebih modern (kiri) dan yang tradisional (kanan). Foto: Dokumentasi USAID APIK

Kandang ayam cerdas iklim percontohan ini mengusung beberapa inovasi yang manfaatnya sudah dirasakan oleh peternak setempat. Teknologi pemberian pakan dirancang sedemikian rupa sehingga peternak dapat mendorong alat pemberi pakan sembari mengambil telur ayam sehingga dapat mengefisienkan pekerjaan. Alat pemberi pakan yang lebih modern tersebut juga mengurangi potensi pakan tumpah atau berceceran di lantai. Alat pemberian minum menggunakan model drip (tetes) yang membuat air hanya keluar jika disentuh oleh ayam. Alat ini memastikan pemberian air minum sesuai kebutuhan ayam dan lebih hemat. Secara keseluruhan, desain kandang percontohan membuat sirkulasi udara dalam kandang tetap segar dan tidak pengap sehingga lebih baik untuk kesehatan ternak dan akan memicu produksi telur yang lebih optimal.

Ketua PPRN Blitar, Rofi Yasifun, mengungkapkan bahwa para peternak ayam petelur di wilayahnya masih mengelola peternakan secara tradisional. “Selama ini peternak di Blitar rata-rata mengelola peternakan secara sederhana dan mengembangkan kandang sendiri, meniru apa yang dibuat tetangganya yang sesama peternak. Dengan adanya kandang percontohan ini, kami sekarang punya acuan seperti apa kandang yang ideal,” ujar Rofi.

Penggunaan teknologi pemberian pakan yang lebih modern di kandang ayam percontohan. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Penggunaan teknologi pemberian pakan yang lebih modern di kandang ayam percontohan. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Pada tanggal 26 November 2019, kandang ayam cerdas iklim ini diresmikan langsung oleh Bupati Kabupaten Blitar, Rijanto, MM. “Karena perekonomian masyarakat di Kabupaten Blitar sangat bergantung pada sektor peternakan, khususnya peternakan ayam petelur, kami berharap dan percaya bahwa upaya ini dapat mengembangkan produktivitas, kualitas, dan kuantitas telur hasil ternak, sehingga kami dapat menyuplai ke lebih banyak lagi daerah lain,” ungkap Rijanto. “Ini merupakan upaya yang tepat untuk menjaga stabilitas harga pasar produksi telur dan ayam petelur,” imbuhnya saat peresmian kandang ayam cerdas iklim percontohan di Desa Ngrejo, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar.

Kampanye makan telur ayam saat peluncuran kandang ayam cerdas iklim percontohan di Blitar. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Kampanye makan telur ayam saat peluncuran kandang ayam cerdas iklim percontohan di Blitar. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Guna mendukung penguatan kapasitas peternak secara komperehensif, Food and Agricultural Organization Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (FAO ECTAD) dan USAID Jadi Pengusaha Mandiri (JAPRI) juga dilibatkan dan berkontribusi menyediakan dukungan terkait aspek pengembangan biosekuriti dan pelatihan pengelolaan wirausaha.

(Penulis: Hidayatullah Al Banjari, Private Sector Engagement Advisor – USAID APIK; Nyoman Prayoga, Communications Specialist: Knowledge Management and Reporting – USAID APIK; Stella Puteri, Communications Specialist: Media and Outreach – USAID APIK)