Jumat, 13 Desember 2019

USAID dan Pemerintah Maluku Merayakan Keberhasilan Kolaborasi dalam Membangun Ketangguhan terhadap Iklim dan Bencana

USAID dan Pemerintah Maluku saling menyampaikan apresiasi atas kerja sama membangun ketangguhan. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Pada tanggal 5 Desember 2019, USAID APIK melaksanakan diseminasi hasil perjalanan empat tahun kerjasama USAID APIK dan Provinsi Maluku dalam meningkatkan ketangguhan terhadap dampak perubahan iklim dan bencana. Sejak tahun 2016, USAID APIK bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Maluku, Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, dan Kabupaten Kepulauan Aru dalam meningkatkan ketangguhan. Maluku sendiri merupakan wilayah berciri kepulauan yang didominasi oleh pulau-pulau kecil sehingga rentan terhadap ancaman perubahan iklim.

Menyadari pentingnya memiliki arah pembangunan daerah yang tangguh terhadap dampak perubahan iklim dan bencana, USAID APIK telah berhasil melakukan serangkain pendampingan kepada Pemerintah Provinsi Maluku untuk berkomitmen menjadikan isu perubahan iklim dan bencana sebagai salah satu bagian terpenting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi tahun 2019-2024. Hal ini disampaikan dalam sambutan Gubernur Maluku yang dibacakan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku, Roy Syauta, saat penutupan program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK)yang dilaksanakan di Hotel Amaris Ambon, Kamis (5/12/19). “Gubernur berharap kepada penerima manfaat, khususnya pemerintah provinsi dan kabupaten agar dapat mereplikasi program USAID APIK pada tahun-tahun yang akan datang,” imbuhnya.

Penutupan program APIK dihadiri Chief of Party USAID APIK Paul Jeffery dan Direktur Kantor Lingkungan USAID Matthew Burton, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Maluku, Roy Siauta mewakili Gubernur Maluku, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Kepulauan Aru dan Kota Ambon.

Dalam kesempatan tersebut, USAID dan Provinsi Maluku saling menyampaikan apresiasinya satu sama lain atas upaya dan kerja sama yang telah dibangun melalui Program APIK untuk membangun ketangguhan terhadap dampak iklim. Kolaborasi yang dibangun sejak 2016 harus berakhir di penghujung 2019.

Penutupan program USAID APIK di Maluku dilakukan secara simbolis dengan menabuh tifa. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Paul Jeffery selaku Chief of Party USAID APIK mengungkapkan bahwa perubahan iklim mengancam mata pencaharian dan mengubah pola kerja masyarakat di Maluku. “Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Maluku, Kota Ambon, Maluku Tengah, dan Kepulauan Aru, serta mitra lain termasuk LSM, pihak swasta, dan kelompok masyarakat yang telah bahu membahu mengurangi risiko iklim di Maluku,” tambahnya.

Regional Manager USAID-APIK di Maluku, Willy Wicaksono, memaparkan perjalanan USAID APIK sejak 2016-2019 di provinsi, kabupaten/kota hingga desa, di antaranya pengarusutamaan isu API-PRB ke dalam kebijakan serta melakukan 41 aksi di lapangan dengan lebih dari 20.000 penerima manfaat.

Dalam perjalannya, USAID APIK telah melakukuan serangkaian kajian di tingkat provinsi sampai ke tingkat desa dalam bidang perubahan iklim dan kebencanaan yang dihasilkan telah dijadikan sebagai landasan penyusunan kebijakan. Rekomendasi rencana aksi yang muncul dari kajian tersebut juga telah ditindaklanjuti oleh pemerintah setempat dengan menginvestasikan anggaran ke bidang adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana (API-PRB).

Penyampaian hasil dan capaian USAID APIK di Maluku. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Penyampaian hasil dan capaian USAID APIK di Maluku. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Di tingkat tapak, USAID APIK bekerja erat dengan masyarakat dalam berbagai aksi ketangguhan seperti pemulihan lingkungan kepulauan, pesisir, dan penguatan kearifan lokal seperti Nanaku dan Sasi untuk praktik pertanian dan perikanan yang lebih sadar iklim dan cuaca. Sebagai contoh, USAID APIK memfasilitasi pemasangan layar informasi cuaca di Desa (Negeri) Haruku, Ameth, dan Wassu, di Kabupaten Maluku Tengah. Dengan ini, masyarakat dapat mengakses informasi cuaca dan iklim yang lebih akurat dan aktual sehingga bermanfaat untuk aktivitas bertani dan melaut baik itu menangkap ikan maupun menyeberangi pulau. Di desa lain seperti Morella dan Negeri Lima, masyarakat mendapat manfaat dari penggunaan solar dryer yang membantu petani mengeringkan cengkeh dan pala secara lebih cepat, higienis, dan praktis karena tidak perlu panik mengangkut hasil panen yang sedang dijemur saat turun hujan. Menyadari bahwa masyarakat masih menggunakan Nanaku sebagai salah satu penunjuk waktu atau periode dalam bertani dan melaut, USAID APIK melakukan pengumpulan dan penyandingan data Nanaku dengan data cuaca dan iklim dari BMKG. Pendekatan ini digunakan agar masyarakat mampu berdaptasi dan menerima teknologi dengan lebih mudah tanpa meninggalkan kearifan lokal yang sudah ada. Selain itu USAID APIK juga mendorong penerapan Sasi sebagai perangkat hukum adat dalam pelestarian lingkungan.

“Dalam rangka perayaan 70 tahun hubungan diplomatik antara Pemerintah AS dan Indonesia, kegiatan APIK di Maluku telah menjadi contoh investasi jangka panjang Pemerintah AS dalam mendukung penghidupan masyarakat di Indonesia. USAID dan mitra-mitra kami di Maluku melihat adanya dampak dan manfaat yang nyata dan sekaligus menunjukkan komitmen kami dalam membangun ketangguhan dan kemandirian masyarakat,” diungkapkan oleh Direktur Kantor Lingkungan USAID, Matthew Burton. Meski program APIK berakhir, USAID akan melanjutkan kolaborasi dengan Indonesia dalam bidang ketangguhan bencana melalui programnya yang lain, termasuk melalui USAID Office of Foreign Disaster Assistance.

Perwakilan pemerintah dan masyarakat saling berbagi pengalamannya dalam membangun ketangguhan di isu API-PRB. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Selain serah terima hasil pekerjaan program APIK yang secara simbolis disampaikan kepada pemerintah daerah, acara penutupan ini juga diisi dengan dialog bersama perwakilan pemerintah dan masyarakat. Dialog ini menjadi kesempatan bagi berbagai pihak untuk menyampaikan pengalaman dalam membangun ketangguhan serta komitmen untuk terus melanjutkan upaya di bidang API-PRB.

Lanjutkan Kalesang Negeri!

(Penulis: Nyoman Prayoga, Communications Specialist: Knowledge Management and Reporting USAID-APIK)