Rabu, 13 November 2019

Semangat Warga Sekolah dan Pemerintah di Kota Kendari untuk Kurangi Risiko Bencana

Murid SMP Negeri 9 Kendari berkumpul untuk mengikuti simulasi bencana. Foto: Grup Fasilitator SPAB Kendari
Murid SMP Negeri 9 Kendari berkumpul untuk mengikuti simulasi bencana. Foto: Grup Fasilitator SPAB Kendari

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa dalam 15 tahun terakhir terdapat 46.648 sekolah di Indonesia yang terdampak bencana. Bencana yang tercatat dalam angka ini mencakup bencana dengan skala menengah dan besar yang memberikan dampak signifikan pada sektor pendidikan Indonesia.

Sektor pendidikan merupakan salah satu yang mengalami dampak terburuk dari sebuah bencana seperti hilangnya nyawa maupun terjadinya cedera parah di sekolah. Selain itu, terdapat banyak konsekuensi lain seperti sekolah yang tidak bisa digunakan karena rusak, sekolah digunakan sebagai tempat pengungsian, sekolah tidak dapat diakses, hilangnya ruang bermain anak, hilangnya peralatan sekolah dan materi pendidikan, hingga proses belajar mengajar yang terhenti.

Kejadian banjir besar di Kota Kendari selalu berulang sejak 2013 hingga 2019 dan berdampak juga pada sektor pendidikan di sana. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari menyebutkan sedikitnya 44 sekolah di Kota Kendari merasakan dampak bencana banjir dan longsor dengan kerusakan ringan hingga berat.

Bencana yang mencederai fasilitas pendidikan di Kota Kendari sebagian besar tidak dibarengi dengan kesiapsiagaan yang memadai dari pihak sekolah. Kondisi ini terjadi karena masih rendahnya kapasitas siswa dan tenaga kependidikan yang ada.

USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) mendukung BPBD Kota Kendari untuk melaksanakan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang menjadi agenda dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk membuat seluruh fasilitas pendidikan beserta warganya aman dari bencana.  Saat berbicara tentang SPAB, maka kegiatan di dalamnya berpijak pada tiga pilar, yaitu Pilar 1 Fasilitas Sekolah Aman; Pilar 2 Manajemen Bencana di Sekolah; dan Pilar 3 Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana.

Di Kendari, dukungan USAID APIK dalam program SPAB mencakup dua kegiatan besar yaitu ‘Pelatihan Fasilitator SPAB’ dan ‘Simulasi Bencana di Satuan Pendidikan’. Inisiatif ini juga melibatkan Dinas Pendidikan Kota Kendari sebagai institusi yang memayungi satuan pendidikan di sana.

Pelatihan Fasilitator SPAB dilaksanakan pada tanggal 26-27 September 2019 dan diikuti oleh 29 staf BPBD Kota Kendari dan 44 sekolah, terdiri dari 39 Sekolah Dasar (SD) dan 5 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang diwakili oleh guru dan/atau Kepala Sekolah. Peserta mendapat materi manajemen dasar penanggulangan bencana, pengantar SPAB dan tiga pilarnya, kajian risiko sekolah partisipatif, penyusunan rencana aksi sekolah, pembentukan Kelompok Siaga Bencana Sekolah (KSBS), penyusunan prosedur tetap (protap) kedaruratan, pembuatan peta, jalur dan rambu evakuasi, serta pra-simulasi/simulasi. Sebagai rencana tindak lanjut, masing-masing sekolah telah sepakat untuk melaksanakan simulasi bencana yang akan difasilitasi oleh fasilitator yang telah dilatih dan didampingi USAID-APIK.

Pelatihan fasilitator SPAB di Kendari, 26-27 September 2019. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Pelatihan fasilitator SPAB di Kendari, 26-27 September 2019. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Agar ini dapat terlaksana, BPBD membentuk tim fasilitator dari staf BPBD yang dibagi bersama dengan fasilitator dari pihak sekolah yang sudah mengikuti pelatihan. Tim fasilitator dari BPBD dan sekolah tersebut bekerja sama melakukan hal-hal yang sudah mereka dapatkan dari pelatihan, mulai dari penyusunan kajian risiko sampai ke pelaksanaan simulasi.

Pelaksanaan perdana simulasi bencana dilaksanakan di SDN 32 Kendari dan SDN 42 Kendari yang keduanya terletak berdampingan. Simulasi diawali dengan apel siaga yang dipimpin oleh Kepala Pelaksana BPBD Kota Kendari, Bapak Suhardin, S.Sos, M.Si dan dilanjutkan dengan simulasi bencana banjir. Kedua sekolah ini terletak sekitar 800 meter dari Teluk Kendari dengan posisi sekolah lebih rendah dari jalan sehingga rawan terjadi banjir.

Kolaborasi BPBD dan para pihak dari satuan pendidikan sejauh ini menunjukkan hasil yang baik. Ini terlihat dari pelaksanaan simulasi bencana di berbagai sekolah yang dilakukan secara bergantian dari pertengahan sampai akhir Oktober 2019.

Simulasi bencana di salah satu sekolah dasar di Kendari. Foto: Grup Fasilitator SPAB Kendari

Simulasi bencana di salah satu sekolah dasar di Kendari. Foto: Grup Fasilitator SPAB Kendari

Murid-murid sekolah dasar berkerumun di titik kumpul dan mendengarkan arahan dari pembina kegiatan simulasi bencana. Foto: Grup Fasilitator SPAB Kendari

Murid-murid sekolah dasar berkerumun di titik kumpul dan mendengarkan arahan dari pembina kegiatan simulasi bencana. Foto: Grup Fasilitator SPAB Kendari

Siswa SMP N 9 Kendari mendapat arahan untuk berperan dalam penyelamatan saat terjadi bencana. Foto: Grup Fasilitator SPAB Kendari

Siswa SMP N 9 Kendari mendapat arahan untuk berperan dalam penyelamatan saat terjadi bencana. Foto: Grup Fasilitator SPAB Kendari

Bapak Mappabeta Noma, S.Pd, M.Pd, guru SDN 89 Kendari menyatakan bahwa, “Saya mendapatkan ilmu tentang penanggulangan bencana sehingga bisa menyosialisasikan pada lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di sekolah dulunya ketika terjadi bencana banjir kami warga sekolah hanya berbuat seadanya. Kini setelah pelatihan dan simulasi kami lebih siap siaga. Ke depan simulasi seperti ini akan menjadi agenda tahunan sekolah termasuk memperkenalkan rambu-rambu evakuasi.

Senada dengan Bapak Mappabeta, Kepala Sekolah SMPN 9 Kota Kendari, Bapak Milwan, SPd, M.Pd juga menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi sekolah dan seluruh warga sekolah sangat mendukung kegiatan ini. “Saya menghimbau kepada semua guru dan warga sekolah untuk menyiapkan simulasi ini sebaik-baiknya dan akan kita laksanakan setiap tahun sekali. Kami juga akan memasang banyak rambu-rambu agar warga sekolah senantiasa siaga. Mengingat siswa SMPN 9 Kendari jumlahnya 1.200 orang, maka menjadi tanggung jawab kami untuk senantiasa mengingatkan untuk selalu siaga”.

Simulasi bencana yang dilaksanakan sejauh ini terdiri dari 2 jenis, yaitu simulasi bencana banjir dan gempa bumi. Meski skala gempa bumi di Kendari tergolong kecil, namun intensitasnya hampir setiap tahun bahkan bisa beberapa kali dalam setahun.

Melalui peningkatan kapasitas BPBD dan sekolah, harapannya akan meningkatkan kesiapsiagaan bencana dan berkontribusi pada ketangguhan sekolah dan Kota Kendari dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana.

(Penulis: Sitti Zahara – Field Coordinator Kendari, Sulawesi Tenggara – USAID APIK; Nyoman Prayoga, Communications Specialist: Knowledge Management and Reporting USAID-APIK)