Selasa, 15 Oktober 2019

Festival Iklim 2019 Ajak Semua Pihak Ambil Aksi Nyata

Tim penyusun panduan prioritisasi aksi adaptasi perubahan iklim menyampaikan materi. Foto: Dokumentasi USAID APIK
Tim penyusun panduan prioritisasi aksi adaptasi perubahan iklim menyampaikan materi. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Bertempat di Gedung Manggala Wanabakti, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menyelenggarakan Festival Iklim 2019 pada 2-4 Oktober 2019. Melalui kegiatan ini, KLHK beserta para mitra bertujuan memberikan informasi terbaru kepada masyarakat luas tentang upaya-upaya pengendalian perubahan iklim serta memberi penghargaan kepada para pelaksana dan pendukung program Kampung Iklim yang berprestasi. Hal ini dilakukan untuk mendorong partisipasi semua pihak baik itu pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk merealisasikan target komitmen nasional dalam Indonesia’s Nationally Determined Contributions (NDC), yaitu mengurangi emisi sebesar 29% dari business as usual dengan upaya sendiri dan sampai 41% dengan bantuan internasional.

USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) turut berpartisipasi dalam Festival Iklim 2019 dan terlibat aktif dalam sesi diskusi. Salah satu sesi mengangkat tema “Perangkat Analisis Prioritisasi Aksi Adaptasi Perubahan Iklim” yang dilatarbelakangi oleh kebutuhan daerah untuk memilih aksi adaptasi yang perlu diutamakan di tengah keterbatasan anggaran. Tim penyusun panduan yang hadir, Riko Wahyudi, Christian Silangen, dan Khariun Nisa, sepakat bahwa analisis prioritas ini akan membantu untuk memberi alasan yang kuat bahwa suatu aksi adaptasi perlu dilakukan. “Dari sekian pilihan aksi adaptasi yang telah mempertimbangkan kerentanan terhadap dampak perubahan iklim tertentu, maka pilihan aksi tersebut perlu dilihat dari segi efektivitas, efisiensi, dan keadlian,” kata Riko Wahyudi menjelaskan. Mereka merekomendasikan tiga metode yang dapat digunakan yaitu Cost Benefit Analysis, Cost Efficiency Analysis, dan Multi Criteria Analysis yang disesuaikan dengan konteks peningkatan ketangguhan. “Proses prioritisasi ini harus dikoordinasikan dengan Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah – red) karena sifat opsi aksi adaptasi yang lintas sektor,” ujar Khairun Nisa menambahkan. Dalam sesi yang dihadiri sekitar 42 orang ini, USAID APIK bertindak selaku moderator diskusi dan melibatkan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, dan Bappenas sebagai penanggap. Pada hari terakhir pelaksanaan Festival Iklim 2019, USAID APIK turut hadir sebagai penanggap dalam sesi “Integrasi Adaptasi Perubahan Iklim dengan Instrumen Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH)”. Sesi ini membahas tentang bagaimana integrasi isu perubahan iklim dengan instrumen PPLH yang ada di KLHK.

Peserta mengikuti permainan tanya jawab tentang adaptasi perubahan iklim di stan pameran milik USAID APIK. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Peserta mengikuti permainan tanya jawab tentang adaptasi perubahan iklim di stan pameran milik USAID APIK. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Selain berbagai sesi diskusi, Festival Iklim 2019 juga menampilkan inisiatif-inisiatif berbagai pihak dalam melakukan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui pameran. USAID APIK pun turut serta menampilkan capaian-capaian kegiatan dalam pameran tersebut. Tidak hanya mendapat berbagai materi pembelajaran dari upaya membangun ketangguhan di Jawa Timur, Maluku, dan Sulawesi Tenggara, para pengunjung yang hadir juga menikmati keseruan bermain sambil belajar melalui sesi permainan interaktif dengan tema adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. Ada sekitar 114 orang yang mengunjungi stan pameran USAID APIK dalam acara Festival Iklim 2019.

(Penulis: Nyoman Prayoga, Communications Specialist: Knowledge Management and Reporting USAID-APIK)