Senin, 23 September 2019

Kearifan Lokal “Kentongan” sebagai Alat Komunikasi Saat Terjadi Bencana

Djalil menunjukkan kentongan sebagai alat komunikasi sederhana untuk saling mengimbau saat banjir datang. Foto: Dokumentasi USAID APIK.
Djalil menunjukkan kentongan sebagai alat komunikasi sederhana untuk saling mengimbau saat banjir datang. Foto: Dokumentasi USAID APIK.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2018, Provinsi Sulawesi Tenggara tergolong rentan terhadap bencana hidrometeorologi terutama banjir. Banjir, bagi salah salah satu desa dampingan USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK), yaitu Desa Lamokula di Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, rutin terjadi dalam beberapa tahun belakangan. Pada bulan Mei 2017, empat kali kecil yang mengaliri Desa Lamokula; kali Mekar Jaya, Tolea Asi, Bangga Ea dan Adunggeho, meluap dan merugikan lebih dari 40 kepala keluarga[1]. Untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap bencana serupa, USAID APIK melakukan penguatan Kelompok Siaga Bencana (KSB) dengan memfasilitasi beragam pelatihan penanggulangan bencana.

USAID APIK mendorong inisiatif masyarakat untuk menjadi lebih siap dan adaptif dalam menghadapi banjir yang bisa datang kapan saja. Ditemui di Desa Lamokula, salah satu tokoh masyarakat, Djalil menunjukan kentongan yang digunakannya sebagai alat komunikasi saat banjir terjadi. Sejak masuknya  USAID APIK di Lamokula yang dimulai dengan sosialisasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat Desa Lamokula pada tahun 2017, Djalil, begitu ia akrab disapa, belajar memahami penanggulangan bencana banjir yang kerap kali melanda desanya. Komitmennya dalam menyelamatkan masyarakat dari bencana banjir ditunjukkannya  melalui keterlibatanannya sebagai ketua Kelompok Siaga Bencana (KSB) hingga sekarang.

“Keinginan saya untuk terlibat dalam KSB didorong oleh rasa ingin tahu dan kepedulian kepada masyarakat supaya kita semua dapat bertindak lebih cepat dan tepat saat banjir datang. Dalam KSB saya belajar banyak hal baru dan menyebarkan pengetahuan tersebut kepada masyarakat luas,” ungkap Djalil.

Melalui program USAID APIK, Djalil merasakan banyak perubahan dalam penanggulangan risiko bencana yang dialaminya. Pengetahuan baru seperti informasi mengenai jalur evakuasi dan cara mengevakuasi lansia, hingga bagaimana memanfaatkan sistem peringatan dini yang dipasang APIK bersama masyarakat di sungai. Selain itu, diungkapkan Djalil bahwa melalui pelatihan dan penentuan lokasi evakuasi terpusat yang dijembatani USAID APIK, masyarakat kini mampu mengevakuasi diri ke tempat yang lebih memudahkan pergerakan dan pendistribusian bantuan.

Yang paling berkesan bagi Djalil adalah pemanfaatan kearifan lokal yang diakui sangat bermanfaat dan mempermudah evakuasi, yaitu penggunaan kentongan. Kentongan kini digunakan juga sebagai peringatan dini banjir selain penggunaan alat komunikasi modern seperti  sirine, speaker masjid, dan telepon. Keadaan jaringan komunikasi atau sinyal yang sulit dan pasokan listrik yang sering kali mati saat banjir datang tidak memungkinkan masyarakat hanya mengandalkan telepon dan speaker masjid untuk saling mengimbau.

“Sebelumnya, saat terjadi banjir, kami hanya mengandalkan telepon atau speaker masjid untuk menggiring masyarakat desa dalam memindahkan barang dan melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Sinyal telepon mati saat bencana. Jadi, kentongan bisa jadi alternatif paling sederhana yang mempermudah proses evakuasi,” jelasnya.

Kentongan sebagai alat komunikasi dan peringatan dini sudah terbukti efektif saat bencana banjir datang tiga kali selama dua minggu pada bulan puasa di bulan Juni 2019 lalu. Pada waktu Djalil mengamati alat peringatan dini banjir yang berupa tiang berwarna-warni penanda status ketinggian air, Djalil bersiap membunyikan kentongan. Hingga bulan Juli 2019, sudah 40% dari jumlah kepala keluarga di Desa Lamokula sudah memiliki kentongan. Pada saat status siaga, Djalil mulai membunyikan kentongan sebagai komando pertama untuk kemudian diikuti oleh warga lain, sehingga evakuasi berjalan teratur.

“Tahun 2018 lalu, hanya sepuluh orang yang memiliki kentongan, sekarang, sudah 40% dari masyarakat Desa Lamokula memiliki dan memanfaatkannya. Suara kentongan yang sambung menyambung tidak hanya membantu masyarakat terdampak banjir untuk mengevakuasi diri, tetapi juga berguna memanggil warga desa yang berlokasi di tempat yang lebih tinggi di perbukitan agar mereka bisa turut membantu proses evakuasi,” tambahnya.

Penggunaan kentongan untuk simulasi bencana banjir ini dipraktikkan bersama pada saat perayaan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) pada bulan April 2019 lalu. Pemanfaatan kentongan menjadi hal yang paling berkesan bagi Desa Lamokula, khususnya Djalil sebagai ketua KSB. Ternyata, alat sesederhana itu dapat membawa manfaat yang besar, bukan hanya untuk Djalil secara pribadi, tetapi juga untuk masyarakat secara keseluruhan. Semoga ke depannya, setiap keluarga bisa memanfaatkan kentongan demi keselamatan semua warga Desa Lamokula.

__

(Penulis: Stella Yovita Arya Puteri – Communications Specialist: Media and Outreach – USAID APIK)

[1] https://regional.kompas.com/read/2017/05/12/18562531/ratusan.warga.mengungsi.akibat.banjir.di.konawe.selatan.dan.kendari.