Selasa, 10 September 2019

Bangun Kapasitas Pemerintah Kelurahan di Kota Kendari untuk Program Kampung Iklim

Peserta berpartisipasi dalam lokakarya untuk menguatkan kapasitas kelurahan dalam Program Kampung Iklim. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Di Kota Kendari, dampak perubahan iklim yang dirasakan adalah ancaman bencana banjir, longsor, dan angin puting beliung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari mencatat di tahun 2017 ada 3.386 KK atau 14.156 jiwa terdampak banjir dan longsor,  satu orang meninggal dunia, dua orang luka-luka, dan 521 orang mengungsi. Dampak lain dari perubahan iklim dapat dilihat di bidang pertanian. Pada tahun 2015, lebih dari 100 hektar persawahan Amohalo di Kelurahan Baruga mengalami kekeringan saat musim kemarau, sedangkan saat musim banjir mengalami kebanjiran.

Proyek USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bersama pemerintah Kota Kendari dan mitra setempat telah memfasilitasi masyarakat di 14 kelurahan dalam membangun ketangguhan mereka terhadap perubahan iklim dan risiko bencana. Guna mendukung keberlanjutan inisiatif yang sudah berjalan, maka ini perlu dihubungkan dengan program jangka panjang yang ada di pemerintah. Salah satu program berkelanjutan terkait adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana (API-PRB) yang ada di pemerintah saat ini adalah Program Kampung Iklim (Proklim).

Proklim adalah program berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam rangka mendorong masyarakat untuk melakukan peningkatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca serta memberikan penghargaan terhadap upaya-upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilaksanakan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah (Permen LH No. 19/2012 tentang Proklim).

Melalui Proklim, pemerintah memberikan penghargaan kepada masyarakat yang telah melaksanakan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim secara berkelanjutan di wilayah mereka. Contoh upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim antara lain pengendalian kekeringan, banjir dan longsor, peningkatan ketahanan pangan, pengelolaan sampah limbah padat maupun cair, termasuk adanya kelompok masyarakat yang aktif membangun ketangguhan lokal.

Pada tanggal 20-21 Agustus 2019, USAID APIK bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Kendari menyelenggarakan sebuah lokakarya untuk menghubungkan inisiasi pembangunan ketangguhan masyarakat di Kota Kendari dengan Proklim. Lokakarya yang dihadiri 12 Kelurahan dan 3 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kota Kendari ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan API-PRB yang telah dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah kelurahan, serta memfasilitasi mekanisme pendaftaran Proklim ke dalam Sistem Registri Nasional (SRN) Pengendalian Perubahan Iklim yang disediakan oleh KLHK. Dalam kesempatan ini, USAID APIK juga memberikan penguatan tentang publikasi kegiatan-kegiatan API-PRB di komunitas melalui pemanfaatan OpenStreetMap dan portal Ushahidi.

Budi Utomo, Lurah Kampung Salo, menyampaikan, “Lokakarya ini memberikan peningkatan pemahaman masyarakat tentang perubahan iklim dan dampak yang ditimbulkannya sehingga dapat mendorong semua pihak agar melakukan aksi nyata untuk ketangguhan masyarakat.” Beliau menambahkan, “Tersedianya data di tiap kelurahan tentang kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta potensi pengembangannya di tingkat lokal yang dapat menjadi masukan dalam perumusan kebijakan, strategi, dan program perubahan iklim.”

Kelurahan Kampung Salo merupakan salah satu kelurahan yang telah banyak menginisiasi kegiatan-kegiatan API-PRB, antara lain pembentukan kelompok siaga bencana, pengelolan sampah, pemasangan sistem peringatan dini pergerakan tanah (longsor), pembuatan tanggul penahan longsor, normalisasi sungai, pembuatan biopori, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut terlaksana atas fasilitasi USAID APIK. Menariknya, kegiatan-kegiatan ini tidak hanya mendapat dukungan dana dari pemerintah daerah khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tetapi juga mendapat dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dana Kelurahan, dan juga sektor swasta seperti PT Pertamina.

Kegiatan lokakarya diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut berupa identifikasi kegiatan-kegiatan API-PRB yang akan dilakukan di level komunitas guna meningkatkan ketangguhan masyarakat, sekaligus sebagai bahan untuk didaftarkan dalam SRN. USAID APIK bersama DLH Kota Kendari akan memberikan pendampingan, fasilitasi, dan pembinaan untuk kegiatan-kegiatan tersebut.

(Penulis: Sitti Zahara – Field Coordinator Kendari, Sulawesi Tenggara – USAID APIK)