Kamis, 5 September 2019

Rencana Pembangunan Desa Siapkan Masyarakat Sumberagung Hadapi Longsor dan Kekeringan

Rambu-rambu evakuasi yg terpasang di Balai Desa Sumberagung. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Di tengah potensinya sebagai daerah penghasil kopi, Desa Sumberagung menyimpan ancaman longsor dan kekeringan. Bencana longsor maupun kekeringan hampir terjadi setiap tahun di desa yang terletak di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang ini. Pada Oktober 2017, longsor yang diakibatkan hujan deras selama dua hari berturut-turut menyebabkan 27 keluarga di satu RT dievakuasi, dua rumah warga rusak, dan aktivitas warga terganggu.

Terkait kekeringan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menyebutkan bahwa Desa Sumberagung masuk ke dalam sembilan desa dengan risiko kekeringan tertinggi di Kabupaten Malang pada tahun 2017 dan 2018. Sekitar 1.514 keluarga di Sumberagung berisiko mengalami kesulitan air bersih saat kekeringan. Membeli air pun menjadi opsi paling realistis bagi warga. Berdasarkan hasil wawancara, satu keluarga rata-rata mengeluarkan biaya Rp 100.000,- untuk membeli 2.000 liter air yang mereka habiskan dalam seminggu. Kondisi ini menyebabkan warga, khususnya perempuan, harus mengantre, membeli, dan membawa berliter-liter air sampai ke rumah.

Sejak tahun 2016, USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja sama dengan Kelompok Kerja (Pokja) Perubahan Iklim Kabupaten Malang yang beranggotakan perwakilan dari berbagai instansi, melakukan Kajian Kerentanaan dan Risiko Perubahan Iklim Kabupaten Malang di tahun 2017. Menindaklanjuti rekomendasi kajian tersebut, USAID APIK fokus untuk mengarusutamakan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana (API-PRB) ke dalam kebijakan dan perencanaan pembangunan, termasuk di tingkat desa.

Di Desa Sumberagung, USAID APIK mendorong partisipasi warga melalui pembentukan Forum API-PRB untuk mengajak masyarakat aktif terlibat dalam kegiatan seperti kajian risiko bencana desa, serta ikut membahas usulan kegiatan API-PRB yang dapat dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa dan Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDesa). Partisipasi warga ini penting untuk memastikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan nanti benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

Warga desa dilibatkan dalam menentukan aksi membangun ketangguhan di wilayah mereka. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Sebagai aksi nyata di lapangan, USAID APIK memberikan pelatihan kesiapsiagaan bagi masyarakat dan diikuti dengan penyusunan jalur evakuasi bencana longsor. Selain itu masyarakat juga mendapat pelatihan untuk dapat membaca informasi cuaca dan iklim agar mereka lebih waspada terhadap ancaman kekeringan maupun hujan ekstrem.

Pada tahun 2017, USAID APIK bersama dengan Pokja Perubahan Iklim Kabupaten Malang dan PATTIRO melakukan pengukuran ketangguhan desa yang mengacu pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/ Kelurahan Tangguh Bencana. Hasil dari pengukuran ini menunjukkan bahwa Desa Sumberagung telah memenuhi kriteria untuk menjadi Desa Tangguh Bencana.

Pemerintah Desa Sumberagung kini mampu melanjutkan upaya membangun ketangguhan secara mandiri. Pada APBDesa tahun 2018, pemerintah desa mengalokasikan anggaran senilai Rp 9.310.000,- untuk pelatihan kesiapsiagaan bencana dan pemasangan rambu evakuasi di 25 titik agar warga lebih siap menghadapi longsor. Ada juga anggaran sebesar Rp 50.739.000,- untuk pembangunan tiga tandon air hujan sebagai upaya meningkatkan kemampuan adaptasi warga saat kekeringan. Pada tahun 2019, pemerintah desa mengalokasikan Rp 7.000.000,- untuk kegiatan simulasi bencana.

“Sejak di desa dipasang rambu-rambu evakuasi dan ada pelatihan kesiapsiagaan untuk hadapi longsor, saya jadi paham apa yang harus dilakukan saat hujan lebat tiba. Saya tahu ke mana saya harus menyelamatkan diri ke titik kumpul yang lebih aman,” ujar Ibu Suprihani, seorang petani di Desa Sumberagung. Manfaat dari aksi ketangguhan ini juga disampaikan oleh Bapak Ismail, Kepala Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ulum. “Setelah dipasang tandon untuk memanen air hujan di sekolah, saat kemarau tiba kebutuhan air untuk siswa dan siswi di lingkungan sekolah terbantukan,” ucapnya.

Bapak Suwandi selaku Seretaris Desa Sumberagung juga menanggapi perubahan yang terjadi di desanya. Beliau berkata, “Setelah adanya program USAID APIK, kami menjadi paham bagaimana membangun ketangguhan di desa kami, terlebih bagaimana mengoptimalkan perencanaan dan penganggaran desa untuk pengurangan risiko bencana.” Ini menunjukkan keberhasilan USAID APIK dalam membangun ketangguhan masyarakat dari sisi tata kelola yang mempertimbangkan risiko perubahan iklim.

Di tahun 2019 ini, Desa Sumberagung berhasil masuk ke dalam Program Inovasi Desa yang digagas oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes), dan diundang untuk mengikuti Bursa Inovasi Desa di Kabupaten Malang. Kegiatan ini berfungsi sebagai ajang pertukaran referensi kegiatan desa untuk pengembangan rencana pembangunannya. Masuknya Desa Sumberagung ke dalam program ini dapat membuka peluang replikasi praktik baik yang telah diinisiasi USAID APIK dalam membangun ketangguhan terhadap kekeringan dan longsor.

Pemerintah desa yang karakteristik wilayahnya rentan bencana iklim perlu mendapat penguatan kapasitas di tataran konsep dan praktik terkait isu API-PRB serta integrasinya ke dalam perencanaan dan penganggaran. USAID APIK menyadari bahwa pemerintah desa sempat ragu-ragu saat harus menganggarkan kegiatan API-PRB yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Mereka khawatir jika kegiatan seperti pemasangan rambu evakuasi, simulasi bencana, pemanenan air hujan, dan sebagainya itu tidak memiliki dasar hukum. Padahal, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa serta regulasi turunannya telah memberi kewenangan bagi desa untuk secara mandiri dan demokratis menjawab permasalahan yang ada di wilayahnya, termasuk masalah terkait bencana dan dampak iklim lainnya. Berkaca dari pengalaman di Desa Sumberagung ini, USAID APIK telah menyusun Panduan Penggunaan APBDes untuk Ketangguhan Bencana dan Lingkungan Hidup Tingkat Desa di Kabupaten Malang. Panduan ini telah didiseminasikan ke lebih dari 30 desa di Kabupaten Malang.

Pelibatan masyarakat juga menjadi kunci perubahan ketangguhan di Desa Sumberagung. USAID APIK mendorong keikutsertaan masyarakat di dalam perencanaan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, termasuk pengawasan dan evaluasi dari pelaksanaan suatu kebijakan. Ini dapat meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab masyarakat untuk mengawal keputusan bersama. Saat manfaatnya dirasakan secara kolektif, maka masyarakat Desa Sumberagung semakin sadar akan pentingnya aksi API-PRB terhadap ketangguhan mereka dalam menghadapi kekeringan dan longsor.

(Penulis: M. Syaiful Rizal, Field Coordinator Kabupaten Malang, Jawa Timur – USAID APIK)