Jumat, 16 Agustus 2019

Pelatihan Geospasial Guna Memahami Sebaran Hama dan Penyakit Tanaman di Jawa Timur

Pelatihan Geospasial Guna Memahami Sebaran Hama dan Penyakit Tanaman di Jawa Timur
Pelatihan Geospasial Guna Memahami Sebaran Hama dan Penyakit Tanaman di Jawa Timur

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang nyata terdampak oleh perubahan iklim. Selain kekeringan dan banjir, pergeseran pola musim dan cuaca juga meningkatkan risiko gangguan hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT) yang meresahkan para petani. Perubahan tersebut juga telah memengaruhi pola tanam berbagai jenis komoditas pertanian.

Perencanaan dalam bercocok tanam sekarang seharusnya tidak lagi hanya menimbang unsur waktu, jenis komoditas, luasan, dan sarana yang diperlukan, tapi juga harus memasukkan proyeksi iklim minimal tiga bulan ke depan sebagai upaya menghindari kerugian yang diakibatkan oleh dampak iklim. Info seperti proyeksi curah hujan dan jumlah hari hujan di suatu kawasan, akan bermanfaat jika dikombinasikan dengan info mengenai jenis, umur, dan karakter ketahanan tanaman sehingga akan menghasilkan informasi yang sangat berguna bagi petani. Informasi tersebut juga mencakup ancaman gangguan OPT sehingga intervensi penyelamatan tanaman dapat direncanakan lebih awal.

Pada tanggal 5-8 Agustus 2019 di Kota Batu, USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Jawa Timur dalam pelaksanaan ‘Pelatihan Geospasial Pola Sebaran Hama dan Penyakit Tanaman Utama’. Pelatihan ini ditujukan bagi para petugas pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT) dan laboratorium pengamatan hama yang salah satu tanggung jawabnya adalah membuat peramalan gangguan OPT. Analisis tersebut digunakan sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan tentang perlu atau tidaknya untuk melakukan tindakan pengendalian.

Integrasi informasi ancaman gangguan OPT ke dalam bentuk spasial akan mempermudah proses analisis di tingkat lapangan, khususnya dalam akurasi proyeksi sebaran OPT. Selain itu USAID APIK juga mendorong agar perencanaan tanam dapat dilakukan dengan memasukkan variabel iklim dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG).

Tim USAID APIK sedang memberikan materi tentang aplikasi penggunaan citra penginderaan jauh untuk monitoring kondisi kesehatan tanaman. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Tim USAID APIK sedang memberikan materi tentang aplikasi penggunaan citra penginderaan jauh untuk monitoring kondisi kesehatan tanaman. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Selama empat hari pelatihan, sebanyak 25 peserta yang terdiri dari petugas POPT dan laboratorium mendapat penguatan kapasitas dan keterampilan untuk bisa mengoperasikan sistem informasi geografis dan mengubah data-data yang awalnya bersifat teks dan tabel menjadi peta yang informatif dari tim USAID APIK. Dalam kesempatan ini, BMKG juga turut hadir memberikan materi untuk memperkenalkan produk proyeksi cuaca dan iklim yang mereka kembangkan agar dapat diintegrasikan dengan data pengamatan hama yang dikumpulkan oleh petugas POPT dan diolah oleh petugas laboratorium lapangan BPTPH.

Pelatihan ini berhasil meningkatkan kemampuan petugas POPT dan laboratorium lapangan untuk memprediksi ledakan hama berdasarkan data proyeksi cuaca dan iklim dari BMKG. Di akhir pelatihan, peserta sudah mampu untuk mengolah data kondisi tanaman dan OPT ke dalam bentuk spasial sebagai acuan perencanaan dan tindakan pengamanan produksi tanaman pangan.

Dhianon Supanggih, SP, salah satu petugas POPT menyampaikan, “Dalam dunia pertanian di era digital saat ini sudah selayaknya kita mengimbangi perkembangan yang ada. Oleh karena itu, pelatihan ini sangat berguna untuk menyampaikan informasi terkait keadaan pertanian dengan lebih akurat, mudah dipahami, ringkas, dan menarik.”

“Pelatihan ini meningkatkan pengetahuan kami tentang informasi iklim yang dapat disebarluaskan ke petugas lain dan petani di wilayah kami, terutama tentang perencanaan tanam agar tidak terkena dampak fenomena iklim seperti kekeringan dan banjir. Selain itu ini berguna untuk perencanaan pengendalian OPT sehingga dapat terhindar dari OPT dominan yang biasa muncul di musim hujan atau musim kemarau,” ujar Pramudiharto, SP, salah satu POPT Ahli Madya pada kantor Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tanaman Pangan dan Holtikultura (PHTPH) Tulungagung, Jawa Timur.

(Penulis: Estu Widyawati, Field Coordinator Provinsi Jawa Timur – USAID APIK/ Wahyu Sutisna, Community Based Adaptation (CBA) Specialist Provinsi Jawa Timur – USAID APIK/ Nyoman Prayoga, Communications Specialist: Knowledge Management and Reporting – USAID-APIK)