Jumat, 2 Agustus 2019

Tanam Pohon, Masyarakat Negeri Leahari Jaga Sumber Air

Aksi tanam pohon di Negeri Leahari. Foto: Dokumentasi USAID APIK
Aksi tanam pohon di Negeri Leahari. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Masyarakat Negeri Leahari meyakini kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur mereka bahwa hutan dan pohon sangat berkontribusi dalam menjaga siklus air. Ketika pohon ditebang, daerah tersebut akan menjadi gersang dan tidak ada lagi yang membantu tanah untuk menyerap lebih banyak air. Berdasarkan hasil kajian kerentanan dan risiko iklim Negeri Leahari, banjir dan kekeringan menjadi masalah yang kerap muncul. Menurut masyrakat, ini tidak terlepas dari alih fungsi lahan yang semakin marak terjadi di Dusun Kepala Air yang terletak di hulu. Dusun tersebut selama ini berperan sebagai daerah tangkapan air dan sumber air yang dimanfaatkan oleh lebih dari 700 penduduk yang tersebar di 4 RT.

Dalam penyusunan rencana aksi adaptasi perubahan iklim, Kelompok Masyarakat (Pokmas) Kalesang Negeri Leahari bersama perwakilan tokoh masyarakat dan Pemerintah Negeri Leahari menyadari penuh bahwa dampak bencana terkait iklim turut memengaruhi aktivitas masyarakat. Maka dari itu perlu ada kegiatan untuk menjaga hutan dan sumber air yang merupakan kebutuhan utama masyarakat setempat. Dari situ, semua sepakat untuk melakukan aksi penanaman pohon di area sekitar sumber air tersebut.

Sebagai tindak lanjut, pada tanggal 23 Juli 2019, USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) bekerja sama dengan Pokmas Kalesang Leahari dan pemerintah setempat untuk melakukan penanaman pohon di Dusun Kepala Air, Negeri Leahari. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Waihapu Batumaerah Ambon turut mendukung dengan memberikan 300 bibit tanaman pala dan 100 bibit pohon mangga yang ditanam di area sekitar sumber air seluas ± 4 Ha. Tanaman pala (Myristica Fragrans) merupakan tanaman andalan masyarakat Maluku pada umumnya karena mata pencaharian sebagian besar masyarakat sebagai petani pala dan cengkeh. Maka dari itu, menanam dan merawat pala bukan hal yang baru bagi petani di Leahari. Selain pala, pohon mangga (Mangifera Indica) yang ditanam juga sejalan dengan Negeri Leahari yang merupakan penghasil buah-buahan bagi Kota Ambon. Pala dan mangga yang ditanam sekitar sumber air ini diharapkan dapat mendatangkan banyak manfaat baik ekonomi maupun lingkungan.

Selain penanaman pohon, pokmas dan pemerintah setempat juga memasang papan himbauan untuk mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga keberadaan pepohonan di lingkungan sekitar sumber air dan tidak membuang sampah sembarangan, apalagi sampai mencemari sumber air. Sampai saat ini masyarakat di Negeri Leahari masih memanfaatkan sungai sebagai sumber air bersih. Maka dari itu, aktivitas masyarakat di sekitar sungai dan mata air terbilang cukup tinggi sehubungan keperluan mengambil air bersih.

Saat kegiatan penanaman pohon, John G. Lainsamputty, pejabat Negeri Leahari, menyampaikan sambutannya terkait kegiatan ini. Beliau mengatakan bahwa, “Kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat untuk masa mendatang, jangka panjang. Penghijauan ini untuk melindungi hutan dan sumber air. Sumber air kehidupan bagi kami, sangat penting untuk dijaga. Jangan menebang pohon, membuang puntung rokok ataupun sampah sembarangan yang dapat membahayakan kita semua. Apabila panas dan hujan tidak teratur, kita semua dapat menjaga hutan dan sumber air. Kita bisa menyesuaikan kegiatan-kegiatan yang sesuai untuk mengantisipasi kondisi bencana yang pernah terjadi. Harapan saya ada dukungan penuh dari Pemerintah Kota Ambon agar tetap bekerja sama menjadi mitra untuk kegiatan seperti ini.”

Sekitar 35 orang yang merupakan perwakilan dari Pemerintah Kota Ambon, Provinsi Maluku, Kecamatan Leitimur Selatan, dan tentunya masyarakat turut berpartisipasi menghijaukan kawasan hulu Negeri Leahari ini. Hadir pula perwakilan staf Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Ambon, Bapak Devi Pattisahusilawane yang turut menyampaikan beberapa saran terkait kegiatan ini. “Perlu adanya pemetaan terhadap tanaman yang ditanam, monitoring, serta menjaga kawasan yang benar-benar perlu dilindungi. Bila perlu membuat hutan wisata karena Leahari juga termasuk negeri penghasil buah-buahan seperti langsa, durian, dan mangga. Warga yang berkunjung dapat menikmati kawasan sekitar sungai dan dapat menikmati buah khas dari Leahari,” ujar beliau.

Pelestarian sumber air sangat dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup masyarakat setempat. Tutupan lahan yang memadai juga dibutuhkan untuk meminimalisir risiko banjir yang dapat terjadi karena ketidakmampuan area hulu untuk menangkap air limpasan saat terjadi hujan deras. Dengan terlibat langsung dalam kegiatan penanaman pohon, ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya mengelola lingkungan dengan baik. Ke depannya, kegiatan ini juga diharapkan dapat memicu aksi penghijauan yang lebih luas dan berkelanjutan sehingga manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat Negeri Leahari.

(Penulis: Nurhanna, Team Coordinator USAID-APIK Maluku & Nyoman Prayoga, Communications Specialist: Knowledge Management and Reporting USAID-APIK)