Selasa, 23 Juli 2019

Siapkan Anak Hadapi Dampak Perubahan Iklim dan Bencana

Siapkan Anak Hadapi Dampak Perubahan Iklim dan Bencana
Siapkan Anak Hadapi Dampak Perubahan Iklim dan Bencana

Anak-anak lebih rentan terhadap bencana iklim

Perubahan iklim dapat mengancam kelangsungan hidup orang banyak dan termasuk anak-anak. Ada lebih dari 800 anak di bawah 5 tahun meninggal akibat diare karena kekurangan air. Bahkan, pada tahun 2040 diprediksi bahwa 600 juta anak akan hidup dengan krisis air yang ekstrem. [1] Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 60-70% korban bencana adalah wanita, anak-anak, dan orang lanjut usia. Di tahun 2018 kemarin, korban meninggal dunia dan hilang mencapai 4.231 jiwa. Dengan data statistik yang disampaikan BNPB, maka lebih dari 2.500  korban tersebut merupakan wanita, anak-anak, dan lansia. Bahkan, disebutkan bahwa perempuan dan anak-anak memiliki risiko 14 kali lebih besar untuk tidak selamat dibandingkan dengan pria dewasa saat terjadi bencana.

Anak merupakan bagian dari kelompok rentan yang mendapat dampak besar dari perubahan iklim, khususnya bencana. Mereka menghadapi bencana dengan kapasitas yang berbeda dengan orang dewasa. Tidak hanya kemampuan menyelamatkan diri saat terjadi bencana, tapi juga kemampuan menyikapi dan memulihkan diri setelah terjadi bencana. Anak-anak cenderung lebih lemah secara fisik dan lebih mudah terguncang secara psikis. Kejadian bencana yang berlangsung cepat, tempat tinggal yang hancur, keluarga yang menjadi korban, bisa menjadi pengalaman yang traumatis dan sangat menyedihkan bagi mereka. Dalam konteks dampak perubahan iklim yang sifatnya jangka panjang, anak-anak juga terancam oleh wabah penyakit dan terganggunya akses pada sumber daya seperti air bersih dan bahan pangan.

Kebutuhan edukasi perubahan iklim dan kebencanaan untuk anak

Pengetahuan anak-anak dalam bidang perubahan iklim dan kebencanaan menjadi sebuah kebutuhan di Indonesia. Ketidaktahuan terhadap isu-isu yang mengancam itu tadi akan menyebabkan kebingungan dan kepanikan pada anak saat harus dihadapkan pada situasi-situasi yang tidak diinginkan. Banyaknya korban anak-anak saat terjadi bencana menunjukkan urgensi edukasi dan penguatan kapasitas anak-anak dalam ketangguhan.

Upaya edukasi perlu muncul di tingkat keluarga dan sekolah, sumber pengetahuan utama bagi anak-anak. Orang tua perlu menuntut diri untuk membekali dirinya dan anak-anaknya dengan informasi praktis seperti hal-hal apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Selain itu, penting juga bagi keluarga untuk belajar tentang hal-hal apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko bencana dan mencegah dampak perubahan iklim yang lebih buruk lagi di masa depan. Akses pengetahuan yang lebih terbuka di era digital saat ini sangat membantu para orang tua untuk belajar dan mengedukasi anak-anaknya tentang hal yang tidak lazim dibicarakan sehari-hari tersebut.

Di sekolah, banyak hal yang bisa dilakukan dalam bentuk pendidikan formal. Selain edukasi yang sifatnya materi konsep, kegiatan praktik seperti simulasi juga perlu dilakukan untuk memberi pengalaman langsung. Hal ini menjadi lebih penting lagi bagi sekolah-sekolah yang berada di kawasan yang sangat berisiko terjadi bencana. Terkait hal ini, para tenaga pendidik termasuk guru dan kepala sekolah perlu diperkuat kapasitasnya agar punya pengetahuan yang memadai di bidang perubahan iklim dan kebencanaan.

USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) menyadari pentingnya kebutuhan ini dan sejak awal telah turut serta melakukan berbagai upaya edukasi bencana iklim untuk anak-anak usia sekolah. Di tahun 2019 ini APIK kembali mendukung Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tiga wilayah, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, dan Maluku dalam kampanye dan simulasi-simulasi bencana yang melibatkan anak-anak sekolah. Kegiatan simulasi bencana dilakukan sebagai bagian dari Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) yang diperingati pada tanggal 26 April yang lalu. Para murid sekolah di berbagai tempat seperti Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Malang, dan Kota Ambon, menyaksikan dan mendapat pengalaman langsung untuk praktik evakuasi dan tanggap darurat saat terjadi bencana. Secara khusus, ratusan murid sekolah dan guru di Ambon dilibatkan dalam kegiatan deklarasi ‘Jaga Alam’ bersama Kepala BNPB, Doni Monardo, yang diperingati dengan kegiatan penanaman pohon bersama.

Para siswa sekolah dasar turut serta dalam simulasi tanggap darurat di Kelurahan Lepo-Lepo, Kendari pada Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2019. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Para siswa sekolah dasar turut serta dalam simulasi tanggap darurat di Kelurahan Lepo-Lepo, Kendari pada Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2019. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Di Maluku Tengah, APIK pada April 2019 ini telah memfasilitasi kajian risiko bencana partisipatif tingkat sekolah di Sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 04 Negeri Siri Sori Islam yang rentan terhadap banjir, longsor, dan angin puting beliung. Kajian ini berhasil membangun kesadaran warga sekolah, termasuk para guru dan siswa, terhadap risiko bencana dan dampak perubahan iklim di sekolah. MTsN 04 Negeri Siri Sori Islam sekarang memiliki peta kerentanan dan risiko bencana iklim yang disusun dengan melibatkan para siswa. Pengetahuan mereka berdasarkan bencana-bencana yang pernah terjadi di sekolah berhasil dituangkan dalam proses kajian tersebut. Mereka juga berdiskusi tentang aksi adaptasi perubahan iklim yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketangguhan warga sekolah.

Para siswa di MTs Negeri 04 Siri Sori Islam aktif dalam proses kajian risiko bencana. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Para siswa di MTs Negeri 04 Siri Sori Islam aktif dalam proses kajian risiko bencana. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Masih di tahun yang sama, pada Februari 2019, APIK mendukung BPBD Kabupaten Malang untuk kegiatan ‘Pena Sekolah’ atau ‘Pengenalan Bencana di Sekolah’, bertempat di SDN 2 Pujon dan SDN 2 Kalisongo yang rentan terhadap longsor saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Kegiatan belajar ini dibalut dengan aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak seperti simulasi, permainan, dan penayangan film tentang bencana alam. APIK menghimbau sekolah mengenai pentingnya rute evakuasi dan rencana kontinjensi bagi sekolah. “Saya berharap kegiatan seperti ini dapat membuat siswa yang tinggal di wilayah rawan bencana seperti Malang memiliki bekal pengetahuan pengurangan risiko bencana sedari dini,” ujar Sadono Irawan, Kepala Seksi Pencegahan BPBD Kabupaten Malang.

Anak-anak sekolah dasar di Kabupaten Malang diajak untuk lebih peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Anak-anak sekolah dasar di Kabupaten Malang diajak untuk lebih peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Foto: Dokumentasi USAID APIK

Bekal untuk masa depan yang lebih tangguh

Melalui berbagai kegiatan yang menyasar anak-anak di sekolah, mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang jenis ancaman bencana di tempat tinggalnya. Selain itu, para guru lebih menguasai topik pembelajaran pada isu perubahan iklim dan kebencanaan, termasuk mengenali jenis-jenis bencana dan aksi yang bisa dilakukan. Anak murid dan guru sekarang lebih familiar dan bisa menggunakan produk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sehingga akses pada layanan informasi cuaca dan iklim meningkat. Cerita baik ini tentu tidak akan terjadi tanpa adanya semangat dan kemauan mereka untuk belajar hal yang tidak mereka dapatkan sehari-hari tersebut. Tenaga pengajar yang lebih terpapar dengan pengetahuan tentang perubahan iklim dan bencana ini mendorong mereka untuk terus menyertakan aspek-aspek tersebut dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah sesuai dengan relevansinya, demi anak-anak yang lebih tangguh.

Pengetahuan dan kesadaran adalah langkah awal untuk aksi nyata di masa depan. Anak-anak yang dibekali dengan pengetahuan yang cukup di bidang perubahan iklim dan kebencanaan dapat menjadi agen perubahan di masyarakat dan pembangunan. Pengetahuan tersebut membuat mereka lebih paham harus berbuat apa saat terjadi bencana dan apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi risikonya. Anak-anak yang teredukasi juga dapat berbagi ke keluarga dan teman-temannya, membantu mereka yang belum terpapar informasi kebencanaan dan iklim. Bukan diajarkan untuk hidup dalam ketakutan, tapi diajarkan untuk siap siaga, mencegah kemungkinan yang lebih buruk, dan peluang perubahan yang lebih baik di masa depan.

Anak-anak menjadi generasi penerus yang perlu berjuang untuk tetap bisa menikmati kehidupan yang terancam mengalami dampak perubahan iklim yang lebih parah. Masyarakat yang lebih dewasa harus bisa melakukan aksi yang lebih nyata dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim guna menghindari mimpi buruk tersebut. Bencana bisa datang kapan saja. Maka dari itu, kesiapsiagaan bencana dan kepedulian terhadap dampak perubahan iklim perlu ditanamkan sedari dini.

 

[1] UNICEF. Thirsting for a Future: Water and Children in a Changing Climate.

Ditulis dalam rangka Hari Anak Nasional 2019

(Penulis: Nyoman Prayoga, Communications Specialist: Knowledge Management and Reporting USAID APIK)

 

Also available in English