Senin, 1 Juli 2019

Belajar Memetakan Wilayah Secara Digital dan Partisipatif di Sulawesi Tenggara

Belajar Memetakan Wilayah Secara Digital dan Partisipatif di Sulawesi Tenggara
Belajar Memetakan Wilayah Secara Digital dan Partisipatif di Sulawesi Tenggara

Perkembangan teknologi memang begitu pesat, tidak terkecuali dalam bidang pemetaan. Teknologi yang terus berkembang saat ini telah memberi kemudahan bagi siapapun yang memiliki kepentingan untuk memetakan suatu wilayah berbasis Sistem Informasi Georafis (SIG). Salah satu program di bidang pemetaan yang cukup terkenal adalah OpenStreetMap (OSM) yang merupakan program berbasis web untuk membuat peta di seluruh dunia secara gratis dan terbuka bagi semua orang. Mengingat sifatnya yang terbuka, pemerintah desa/kelurahan dan masyarakat dapat memanfaatkan OSM untuk membuat data dan informasi wilayahnya secara spasial dengan menggunakan citra satelit dan dikombinasikan dengan pengetahuan masyarakat setempat. Seluruh data dan informasi wilayah (desa/kelurahan) yang dihasilkan secara partisipatif ini akan dimasukkan ke dalam sebuah platform web dan aplikasi yaitu Ushaidi yang merupakan sebuah platform untuk memvisualisasikan data dan informasi spasial secara interaktif.

Undang-Undang No.6 Tahun 2014 tentang Desa mengamanatkan desa untuk bisa mengelola pembangunannya dengan memanfaatkan Sistem Informasi Desa (SID) yang memuat peta desa sebagai salah satu informasi kunci. Dalam hubungannya dengan isu adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana (API-PRB), hal ini dapat dilihat sebagai peluang untuk mengintegrasikan info-info terkait upaya meningkatkan ketangguhan secara sistematis ke dalam proses pembangunan desa. Perangkat desa/kelurahan dan masyarakat diharapkan dapat mengakses informasi kegiatan di tingkat desa, termasuk kegiatan API-PRB, sehingga mempermudah proses perencanaan pembangunan desa.

Melihat kebutuhan dan peluang ini, USAID-APIK berinisiatif untuk mengadakan pelatihan pemetaan desa digital dan partisipatif berbasis OSM di 15 desa/kelurahan dampingan APIK di Sulawesi Tenggara yang belum memiliki peta desa digital. Pelatihan tersebut dilaksanakan pada tanggal 24 sampai 27 Juni 2019 di Hotel Srikandi, Kota Kendari dan dihadiri oleh 20 peserta yang terdiri dari 15 orang perwakilan masing-masing desa/kelurahan dampingan APIK baik perangkat pemerintah maupun komunitas, 1 orang perwakilan mitra APIK, serta 4 orang staf yang masing-masing mewakili Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kendari, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Konawe Selatan, dan Dinas PUPR Kabupaten Konawe Selatan. Selama empat hari, kegiatan difasilitasi langsung oleh Adhitya Dido Widyanto yang merupakan GIS Training Officer dari Perkumpulan OpenStreetMap Indonesia (POI), Muhammad Ridwan Salim selaku GIS Specialist untuk USAID-APIK, Fredy Chandra selaku Community Based Climate Change Adaptation Advisor untuk USAID-APIK, serta La Ode Muhammad Sya’ban Hidayat Rasyid dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Daerah (DPMD) Provinsi Sulawesi Tenggara.

Peserta diperkenalkan dengan teknik digitasi. Foto: Ridwan Salim/USAID APIK

Peserta diperkenalkan dengan teknik digitasi. Foto: Ridwan Salim/USAID APIK

Peserta pelatihan diberikan penguatan kapasitas mulai dari pemahaman konsep tentang pentingnya data geospasial untuk perencanaan dan pembangunan wilayah sampai ke hal yang lebih teknis terkait dengan penggunaan OSM untuk pemetaan secara digital dan berbasis komunitas. Guna memperkuat pemahaman dan pengalaman, para peserta juga diajak untuk melakukan praktik lapangan. Mereka diajarkan untuk melakukan digitasi wilayah desa menggunakan perangkat lunak (software) Java OpenStreetMap Editor (JOSM), survei dan validasi data lapangan dengan Open Data Kit berbasis Android menggunakan aplikasi OSM Tracker, sampai ke pembuatan peta desa menggunakan platform web Ushahidi.

Menurut Adhitya Dido Widyanto sebagai salah satu fasilitator pelatihan, para peserta terlihat sangat antusias dalam menerima materi yang diberikan, khususnya mengenai pentingnya sistem informasi digital desa. “Setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta telah memiliki bekal yang cukup untuk dapat memetakan desanya melalui platform OpenStreetMap,” Adhitya menyampaikan. Kemampuan ini akan mendukung desa untuk melengkapi data-data spasial yang ada di tingkat desa seperti jalan, infrastruktur, dan persil bangunan. “Dengan adanya peta desa berbasis digital, pihak-pihak terkait seperti pemerintah provinsi dan dinas atau kementerian terkait dapat mengetahui potensi desa hingga masalah yang terjadi di desa tersebut dan dapat dengan cepat menentukan rencana tindak lanjut yang harus dilakukan,” Adhitya menambahkan.

Nona sebagai salah satu staf BPBD Kota Kendari pun mengungkapkan bahwa pemetaan wilayah ini akan sangat dirasakan manfaatnya, termasuk dalam bidang kebencanaan dan perubahan iklim. Nona menyebutkan, “Informasi spasial kebencanaan ini akan sangat berguna bagi instansi BPBD dalam merencanakan kegiatan kesiapsiagaan maupun tanggap darurat bencana berdasarkan data spasial yang dikerjakan secara partisipatif oleh masyarakat.”

Dari sisi masyarakat, Bagong, S.Pd, Ketua Kelompok Siaga Bencana (KSB) Desa Bungin Permai, Kabupaten Konawe Selatan, menunjukkan rasa senanganya karena bisa terlibat dalam pelatihan dan mendapat pengetahuan baru di bidang pemetaan wilayah. “Melalui pelatihan ini, saya dapat memetakan sendiri Desa Bungin Permai mulai dari mendigitasi rumah-rumah warga sampai memberi informasi terkait infrastruktur yang ada,” ujar Bagong. Dengan program OSM, dia merasa akan lebih banyak warga yang bisa mendapat informasi mengenai kondisi desa.

Hasil pemetaan Pulau Bungin Permai oleh Bagong saat pelatihan.

Hasil pemetaan Pulau Bungin Permai oleh Bagong saat pelatihan.

Kegiatan penguatan kapasitas ini berhasil membantu 15 desa/kelurahan dampingan APIK di Sulawesi Tenggara untuk memetakan secara total 4.388 persil bangunan dan 40 km panjang jalan yang diolah dengan teknik digitasi menggunakan software JOSM dan terintegrasi dengan program web OSM. Platform yang menyajikan data dan informasi potensi desa/kelurahan di wilayah APIK Sulawesi Tenggara juga sudah dapat diakses pada halaman web https://openstreetmap.id/apik-sultra. Inisiatif ini akan disosialisasikan oleh peserta pelatihan kepada pemerintah desa/kelurahan dan masyarakat lokal sehingga dapat dilakukan pemutakhiran data secara partisipatif. Laman ini bersifat dinamis dan akan terus diperbarui atau ditambahkan data dan informasinya oleh komunitas sehingga dapat digunakan untuk referensi perencanaan program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa/kelurahan.

Tampilan laman web OSM untuk wilayah yang didampingi oleh APIK Sulawesi Tenggara.

Tampilan laman web OSM untuk wilayah yang didampingi oleh APIK Sulawesi Tenggara.

Sebagai rencana tindak lanjut dari pelatihan pemetaan desa ini, para peserta sepakat untuk membentuk jejaring komunitas OSM dan selanjutnya akan melakukan pemutakhiran data dan informasi pada platform Ushahidi yang sudah dibuat. Rencananya komunitas ini akan membantu memetakan bangunan dan jalan di beberapa kabupaten, khususnya Kabupaten Konawe dan Konawe Utara yang terdampak banjir baru-baru ini. Peta dan data hasil digitasi komunitas ini nantinya akan digunakan untuk mendukung penanganan darurat, transisi pemulihan, dan pemulihan pasca bencana banjir tersebut.

Selain itu, Tim USAID APIK Regional Sulawesi Tenggara akan melakukan sosialisasi lebih lanjut kepada pemerintah daerah untuk mengenalkan teknik pemetaan data spasial berbasis OSM dan platform Ushahidi sebagai alat bantu untuk memutahirkan data dan informasi wilayah terutama pada lingkup Kota Kendari dan Kabupaten Konawe Selatan sebagai wilayah kerja APIK. Target wilayah sasaran pengembangan pemetaan digital desa ini adalah Kawasan Perdesaan Tangguh Bencana (KPTB) dan Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) sehingga kedua kawasan tersebut dapat menggunakan pendekatan perencanaan dan monitoring program berbasis spasial. Dinas PUPR setempat juga menunjukkan ketertarikannya untuk menginisiasi kegiatan pelatihan serupa agar mereka memliki data-data spasial yang lebih detil untuk mendukung program-programnya.

(Penulis: Nyoman Prayoga, Communications Specialist: Knowledge Management and Reporting USAID APIK/ Ridwan Salim, GIS Specialist USAID APIK Sulawesi Tenggara/ Fredy Chandra, Community Based Climate Change Adaptation Advisor USAID APIK)