Rabu, 24 April 2019

Sambut Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional, USAID APIK Bangun Ketangguhan Masyarakat Konawe Selatan

Konawe Selatan, 24 April 2019 – USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Selatan melaksanakan simulasi evakuasi banjir di Desa Lamokula, Kecamatan Moramo Utara, dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) yang akan jatuh pada 26 April.

Simulasi dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat agar dapat menghadapi bencana yang sering terjadi di daerahnya. Hal ini sejalan dengan pendekatan HKBN yang mendorong terjadinya perubahan perspektif dari responsif menjadi preventif.

“Di Konawe Selatan ini bencana utamanya adalah banjir dan longsor, dan secara umum, kapasitas masyarakat masih perlu ditingkatkan. Desa Lamokula sendiri memang daerah langganan banjir, oleh karena itu kami berkoordinasi dengan APIK untuk mengadakan simulasi bencana di sana,” kata Ir. H. Adi Warsa Toar, Msi, Kepala Pelaksana Badan BPBD Kabupaten Konawe Selatan.

Simulasi banjir di Desa Lamokula merupakan rangkaian dari kegiatan yang dilaksanakan sejak 22 April mulai dari penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) bersama masyarakat, pemasangan sistem peringatan dini berupa alat pengukur tinggi muka air, penyusunan peta dan jalur jalur evakuasi bencana, dan pemasangan rambu evakuasi. Hal tersebut dilakukan agar warga memahami alur proses penyelamatan diri, serta mengetahui peran yang harus dilakukan saat banjir terjadi. Selain itu, SOP juga membantu terciptanya mekanisme yang menjadi acuan dalam melakukan evakuasi tanggap darurat banjir sehingga kerugian baik harta benda maupun korban jiwa dapat ditekan. Lebih dari 300 warga Desa Lamokula mulai dari perangkat desa, pemuda/i, perempuan, anak-anak, anggota masyarakat mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa sepanjang 2018 terjadi 2.572 bencana yang sebagian besar merupakan bencana hidrometeorologi (terkait cuaca). Provinsi Sulawesi Tenggara sendiri tergolong rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, angin puting beliung, dan gelombang ekstrem. Bagi warga Desa Lamokula, banjir telah rutin terjadi dalam beberapa tahun belakangan. Pada Mei 2017, empat sungai kecil yaitu Mekar Jaya, Kali Tolea Asi, Kali Bangga Ea, dan Kali Adunggeho meluap dan merugikan lebih dari 40 Kepala Keluarga[1]. Bencana serupa terulang kembali pada Juni 2018, yang walau tak menyebabkan korban jiwa namun membuat warga mengungsi.

Sejumlah perwakilan Kelompok Siaga Bencana (KSB) dari wilayah lain di Konawe Selatan, yaitu dari Desa Awunio, Rumba-Rumba, Batujaya, Bungin Permai, Roraya, Laeya, Matawolasi, Laikandongan dan Boro-Boro Lameuru, turut serta dalam simulasi di Desa Lamokula. Selain itu, acara dihadiri pengurus Forum KSB Konawe Selatan. KSB terdiri dari anggota masyarakat dan merupakan tim inti yang akan memimpin proses evakuasi jika bencana terjadi. Melalui keterlibatan ini, anggota KSB dari desa lain dapat memperdalam dan memperkaya pengalaman sehingga lebih cakap dalam melakukan evakuasi serta bertukar pengetahuan.

“Yang perlu digarisbawahi juga adalah, dalam kegiatan HKBN, KSB berpartisipasi aktif. Baru-baru ini kami membentuk beberapa KSB lagi di Konsel. Pak Bupati merespon baik kegiatan pembentukan KSB, dan targetnya di tahun 2020, KSB sudah harus terbentuk di 50 desa. KSB penting untuk kesiapsiagaan bencana karena mereka yang akan menjadi ujung tombak di masyarakat,” tambah Ir. H. Adi Warsa Toar, Msi, Kepala Pelaksana Badan BPBD Kabupaten Konawe Selatan.

Buttu Ma’dika, Manajer Regional Sulawesi Tenggara USAID APIK mengungkapkan, “Sejak 2016, USAID APIK aktif melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat di Sulawesi Tenggara, dan senantiasa bekerjasama dan bersinergi dengan pemerintah termasuk BPBD. Setelah melakukan simulasi di Desa Laeya, Kabupaten Konawe Selatan pada HKBN 2018 lalu, kini kami memperkuat sistem kesiapsiagaan bencana melalui penyusunan SOP, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, dan melakukan simulasi bersama masyarakat Desa Lamokula. Hal ini mempertegas komitmen APIK untuk terus mendorong agar masyarakat sadar akan bencana yang mengancam di daerahnya dan memiliki kemampuan untuk mempersiapkan diri dan menanggulanginya,” katanya.

HKBN merupakan peringatan setiap tahun yang digagas oleh BNPB. Dengan tema “Kesiapsiagaan Dimulai dari Diri, Keluarga, dan Komunitas”, HKBN mendorong pelaksanaan simulasi evakuasi serentak di seluruh wilayah Indonesia dan menargetkan keterlibatan 50 juta orang.

Selain di Desa Lamokula, APIK juga akan melakukan penyusunan SOP dan simulasi evakuasi bencana di Kelurahan Lepo-Lepo, Kota Kendari pada Senin, 29 April 2019.

Kontak:

  • Buttu Ma’dika (Manajer Regional Sulawesi Tenggara USAID APIK) – email: Buttu_Madika@dai.com dan HP 0852-5529-7282
  • Enggar Paramita (Communication Specialist USAID APIK) – email: Enggar_Paramita@dai.com dan HP 0811-1772-687 atau Stella Yovita Arya Puteri (Communication Officer USAID APIK) – email: Stella_Puteri@dai.com dan HP 0811-9885-695

Catatan untuk Editor:

Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) untuk membantu Indonesia mengelola risiko bencana dan iklim. APIK bekerja memperkuat kapasitas Pemerintah Indonesia di tingkat nasional, provinsi, hingga tingkat lokal. Dengan menggunakan pendekatan lanskap, APIK juga bekerja langsung dengan masyarakat dan sektor bisnis agar secara proaktif mengelola risiko, serta meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan untuk mengakses, memahami, dan mengomunikasikan informasi iklim. Informasi lebih lanjut tentang APIK kunjungi www.apikindonesia.or.id

 

[1]https://regional.kompas.com/read/2017/05/12/18562531/ratusan.warga.mengungsi.akibat.banjir.di.konawe.selatan.dan.kendari.