Kamis, 28 Maret 2019

Perencanaan Evakuasi Siapkan Masyarakat Sumberagung akan Bahaya Longsor

Rambu penanda longsor yang dipasang di Desa Sumberagung. (Foto: M. Syaiful Rizal/ USAID APIK).

Terletak di zona pegunungan selatan di Kabupaten Malang, Desa Sumberagung kaya akan hasil bumi seperti kopi dan cengkeh. Namun, posisinya di lereng bukit juga menyimpan ancaman longsor yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Sejak puluhan tahun, warga sudah memilih untuk hidup berdampingan dengan bahaya dengan menjaga tutupan lahan di lereng dan tidak melakukan penanaman tanaman semusim. Belakangan ini, masyarakat menyadari bahwa kondisi iklim semakin tidak menentu, sehingga mereka wajib meningkatkan kesiapsiagaan terhadap longsor.

Di Desa Sumberagung, keberadaan Forum Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (Forum API-PRB) sejak tahun 2017 yang difasilitasi oleh USAID APIK dan Yayasan Pattiro merupakan sebuah langkah untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Yayasan Pattiro merupakan mitra implementasi Dana Ketangguhan USAID APIK yang mendampingi Forum API-PRB untuk mengintegrasikan langkah-langkah adaptasi perubahan iklim ke dalam rencana pembangunan desa. Bersama-sama, dua puluh lima anggota Forum API-PRB yang terdiri dari perangkat desa, masyarakat, pemuda/i melaksanakan berbagai kegiatan, salah satunya menyusun rencana evakuasi longsor.

Pembuatan jalur evakuasi untuk menghadapi ancaman longsor terpilih sebagai salah satu kegiatan yang didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Dalam pelaksanaannya, papan peringatan bahaya longsor dipasang di dusun yang dianggap rawan. Melengkapi hal tersebut, papan petunjuk jalur evakuasi ke lokasi aman titik kumpul juga dipasang. Secara partisipatif, warga menentukan lokasi yang dianggap aman, yang dapat dijangkau dengan cepat dari  masing-masing rumah.

Bagi Sus Setyawati Sukardi, anggota Forum API-PRB, rambu peringatan longsor membantu warga  melaksanakan evakuasi mandiri. “Jika terjadi longsor, rambu akan mengarahkan penduduk ke titik kumpul sementara, yaitu lokasi terdekat yang dianggap aman. Nantinya jika ancaman meluas, warga bisa melanjutkan ke lokasi pengungsian di kantor desa,“ katanya.

Warga Dusun Krajan yang berada di lereng menyambut baik pemasangan rambu evakuasi. Bagi mereka keberadaan rambu yang dapat dilihat sepanjang waktu menjadi pengingat agar terus waspada. Lebih dari itu, rambu mendorong warga untuk berdiskusi tentang bagaimana menanggulangi ancaman longsor agar dampaknya dapat ditekan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Bambang Istiawan sangat mengapresiasi inisiatif warga. Dia berharap bahwa inisiatif ini dapat ditiru oleh desa-desa lainnya, apalagi hasil kajian risiko bencana yang dibuat oleh BPBD menunjukan bahwa  225 dari 390 desa/kelurahan di Kabupaten Malang berada pada wilayah rawan longsor. “Jika setiap desa bisa mendanai kegiatan pengurangan risiko bencana dari APBDes, maka mimpi untuk mewujudkan ketangguhan bencana dapat dicapai lebih cepat,” katanya. Bambang juga mengungkapan bahwa program Desa Tangguh Bencana yang didanai oleh APBD hanya mampu menjangkau 2-3 desa per tahun, sehingga dapat dibayangkan banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkan ketangguhan di keseluruhan desa  di Kabupaten Malang jika tanpa inisiatif warga atau kolaborasi dengan pihak lain.

Proyeksi iklim dari Badan Meteorologi, Klimatalogi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa wilayah Malang Selatan, termasuk Desa Sumberagung akan mengalami peningkatan frekuensi curah hujan yang tinggi dalam 15 tahun mendatang. Curah hujan lebat akan menjadi pemicu kejadian longsor, sehingga  bentuk inisiatif  Desa Sumberagung merupakan langkah awal dari ketangguhan masyarakat. Kesiapsiagaan bencana di tingkat komunitas akan dapat berhasil jika komunitas tersebut memiliki kesadaran akan risiko yang mereka hadapi, aktif memantau ancaman bencana, serta memiliki kapasitas yang diperlukan untuk mengurangi dampak dan merespon bencana.

(Penulis: Yovianus Sakera, Disaster Risk Reduction Specialist APIK Jawa Timur)