Selasa, 5 Maret 2019

Sus Setiawaty: Dorong Keterlibatan Perempuan di Forum API-PRB

Pemasangan rambu kesiapsiagaan bencana. (Foto: M. Syaiful Rizal/USAID APIK).

Terletak di lereng bukit di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, Desa Sumberagung yang kaya akan beragam hasil perkebunan, terpapar dampak bencana dan perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Kekeringan akibat kemarau berkepanjangan dan ancaman longsor yang seringkali pada musim penghujan memaksa masyarakat untuk beradaptasi dan selalu bersiap siaga. Saat kekeringan terjadi, kaum perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampaknya. Di saat itu, perempuan bersusah payah berjalan mencari air yang sulit didapat, baik untuk keperluan memasak, mandi, beribadah, mencuci, merawat kebun, hingga untuk mengurus ternak. Hal ini disampaikan oleh Sus Setiawaty Sukardi, perempuan yang merupakan anggota Forum Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (Forum API-PRB) Desa Sumberagung.

Realita ini mendorong Sus, begitu ia akrab disapa, untuk hadir memberi semangat di tengah masyarakat, terutama kaum perempuan, dalam upaya meningkatkan ketangguhan melalui Forum API-PRB. Sus telah lama mendedikasikan dirinya untuk komunitas lewat kegiatan berorganisasi. Pada tahun 2011, ia terlibat dalam Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) dan membentuk kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) pada tahun 2014. Diakui Sus, SPP yang diprakarsainya telah berkembang menjadi tiga kelompok di Desa Sumberagung, di mana salah satunya dipimpin oleh Sus sendiri.

“Menjadi bagian dari Forum API-PRB merupakan kesempatan yang berharga. Saya dan teman-teman mendapat ilmu baru tentang kebencanaan. Yang membuat semakin semangat, perempuan mendapat hak yang sama dengan kaum laki-laki. Kami, para perempuan, dapat bebas mengungkapkan ide dan gagasan. Semua saling menghargai tanpa membedakan peran gender,”

 -Sus Setiawaty Sukardi, Forum API-PRB Desa Sumberagung-

Walaupun Sus berprofesi sebagai seorang guru madrasah dan pengrajin keripik pisang-jahe merah dan kopi untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, dirinya tetap aktif bertugas di seksi yuridis dalam Forum API-PRB sejak awal terbentuknya forum pada tahun 2016. Dalam seksi tersebut, Sus bertanggung jawab menjembatani forum dengan pemerintah desa.

Tahun 2016, ia bersama forum berhasil mengusung pembentukan undang-undang perlindungan mata air dan mengupayakannya menjadi Peraturan Desa (Perdes). Sejak 2016, USAID APIK melalui mitra dana ketangguhan Pattiro, mendukung Forum API-PRB Desa Sumberagung melalui serangkaian pelatihan untuk melakukan aksi adaptasi di desa. Setelahnya, forum juga berhasil melakukan perbaikan pipa mata air melalui penyediaan paralon yang difasilitasi USAID APIK dan genset oleh dukungan pemerintah desa.

Hingga kini, Sus mengaku banyak mengalami  perkembangan baik bagi dirinya maupun bagi Forum API-PRB sebagai wadah belajar dan berbagi di desanya. Melalui Forum API-PRB, Sus menyadari dampak perubahan iklim yang mengancam Desa Sumberagung setiap tahunnya, terutama kekeringan dan longsor yang menjadi tantangan besar bagi masyarakat. Ia pun menindaklanjuti hal tersebut dengan memotivasi anggota forum yang jumlahnya lebih dari 20 orang, untuk membuat tandon guna memanen air hujan sebagai persiapan musim kemarau. Tandon juga dibangun di wilayah  yang aman dari longsor. Aksi adaptasi ini telah membuahkan hasil.

Pembuatan tandon. Foto oleh: Sus.

Setiap akhir tahun, Forum API-PRB menyusun program kerja tahunan. Tahun 2018 lalu, Forum API-PRB juga telah mengikuti pelatihan mitigasi bencana, menyiapkan jalur, dan memasang rambu evakuasi yang difasilitasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang bekerja sama dengan USAID APIK. Pemasangan rambu jalur evakuasi di 25 titik dan pembangunan tandon di tiga titik hingga kini masih berlangsung. Sus terlibat langsung dalam perencanaan dan pelaksanaannya.

“Tahun 2018 kemarin, keluarga kami sudah merasakan manfaat dari pemanenan air hujan. Saat musim kemarau, kami menggunakan air hujan yang ditampung, jadi kami bisa menghemat waktu dan uang. Tidak perlu lagi antre membeli air, dan dengan menggunakan air tandon selama empat bulan, kami dapat menghemat sekitar tiga juta rupiah,” pungkasnya.

Forum API-PRB telah berhasil mengubah pola pikir masyarakat. Kini, masyarakat dapat beradaptasi untuk mengurangi risiko perubahan iklim yang tidak menentu. Tidak hanya itu, forum ini juga sudah berhasil mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa. Pemerintah desa memasukkan program dan kegiatan forum ke dalam pendanaan desa. Sus berharap agar semakin banyak perempuan yang sadar, peduli, dan terlibat di forum, atau bahkan bisa menjadi pemimpin yang menginspirasi. Ia ingin setiap perempuan di Desa Sumberagung menyadari bahwa kaum perempuanlah yang banyak merasakan dampak bencana dan perubahan iklim, sehingga pengetahuan dan kemampuan beradaptasi sangat penting dimiliki kaum perempuan. Maju terus, Kartini modern!

(Penulis: Stella Puteri, Communication Officer USAID APIK)