Selasa, 5 Maret 2019

Ida: Perempuan Tani Inspiratif dari Konawe Selatan

Ida menceritakan pengalamannya mengikuti SLI jagung saat panen raya. (Foto: Tim USAID APIK Kendari).

Berada di hulu Sungai Wanggu, Kabupaten Konawe Selatan adalah penyangga pangan bagi ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, Kota Kendari. Apabila ada gangguan pasokan pangan di Konawe Selatan, maka harga pangan di Kota Kendari bisa melonjak tinggi. Sementara itu, dampak bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim, terutama kemarau panjang dan banjir, menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian di Konawe Selatan.

Berangkat dari situasi ini, USAID APIK berupaya meningkatkan ketangguhan masyarakat, yang sebagian besar bergantung pada hasil tani, melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Iklim (SLI). SLI berfokus pada budi daya jagung, sebagai salah satu komoditas utama di Konawe Selatan. Penyelenggaraan SLI bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam membudidayakan jagung sesuai dengan kondisi cuaca dan iklim, sehingga dapat mendukung para petani untuk meningkatkan hasil panen.

Kebun Jagung di Kabupaten Konawe Selatan. Foto oleh: Tim APIK Sulawesi Tenggara

Di samping itu, adanya anggapan bahwa petani identik dengan laki-laki membuat akses dukungan bagi petani perempuan menjadi terbatas. Penyelenggaraan SLI jagung di Konawe Selatan dilakukan dengan semangat inklusivitas sehingga tidak hanya diikuti peserta laki-laki tetapi juga perempuan perwakilan dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Sejahtera Desa Aepodu. KWT yang beranggotakan 20 orang perempuan petani ini, sebagian besarnya bertani jagung. KWT sudah berumur delapan tahun dan diketuai oleh salah satu petani inspiratif bernama Fartkuriyachidah, atau yang akrab disapa Ida. Ida sendiri telah memimpin KWT sejak tahun 2015. Selain membudidayakan jagung, padi, dan beternak sapi, KWT Sejahtera juga mengolah pangan hasil pertanian, seperti keripik singkong dan keripik pisang.

Sebagai petani, Ida menyadari pentingnya memiliki keahlian mengamati serta memahami cuaca dan iklim, yang merupakan bagian dari praktik pertanian cerdas iklim (Climate Smart Agriculture/CSA). Melalui keterlibatannya di SLI, Ida belajar bagaimana mengamati cuaca tiga kali sehari, yaitu pukul 07.00, 12.00, dan 18.00, serta belajar mengukur curah hujan. Tidak hanya kemampuan teknis bertani dan menganalisis cuaca yang Ida dapatkan, tetapi juga efisiensi dalam mengelola pertanian dan keuangan.

“Selain itu, SLI membantu saya mengerti bagaimana membuat pupuk dan pestisida sendiri, bahkan dengan bahan-bahan organic. Saya biasanya membeli pupuk dan pestisida kimia, tapi sekarang saya sudah bisa membuat pupuk organic sendiri. Bahannya tidak perlu beli, cukup yang tersedia saja, misalnya batang pisang. Ini tidak hanya mengurangi pengeluaran tapi juga lebih sehat bagi saya dan kebun saya,” jelas Ida.

Ibu Ida dalam kegiatan diskusi kelompok di Sekolah Lapang Iklim Jagung Kabupaten Konawe Selatan. Foto oleh: Tim APIK Sulawesi Tenggara

Sadar bahwa tidak banyak perempuan petani yang terpapar isu CSA, Ida bersukarela berbagi dengan perempuan petani lainnya, mulai dari lingkungan terdekatnya, yaitu KWT. Seluruh perempuan tani di KWT Sejahtera Desa Aepodu terdorong untuk mengaplikasikan praktik-praktik baik yang diajarkan SLI untuk mendorong produktivitas jagung yang akan dipanen akhir bulan April nanti. Semua tak sabar melihat hasilnya.

Ida telah membuktikan bahwa keterlibatan satu perempuan mampu menggerakkan perempuan lainnya. Yang tidak kalah penting, tidak hanya telah membuka jalan bagi banyak perempuan di Desa Aepodu, tetapi Ida juga telah mematahkan stereotipe dan bias bahwa pencari nafkah dan bertani tidak identik dengan laki-laki.

(Penulis: Irmia Fitriyah, Gender Specialist USAID APIK)