Senin, 4 Maret 2019

Cerita Ama dari Morella

Ama (kedua dari kanan) saat mengikuti pelatihan pemetaan partisipatif. (Foto: Tim USAID APIK Maluku).

Berbicara tentang Kelompok Masyarakat (Pokmas) Hausihu dari Negeri (setingkat desa) Morella, Maluku Tengah, maka tidak bisa dipisahkan dari Amalia Sialana. Ama –panggilan akrab Amalia- sejak awal terlibat dalam pembentukan Pokmas dan sehari-hari menjabat sebagai sekretaris. Ia juga menjadi fasilitator untuk kegiatan USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK).

Negeri Morella, yang merupakan daerah asal Ama sekaligus wilayah kerja USAID APIK, seringkali diterpa bencana terkait cuaca seperti banjir, longsor, gelombang tinggi, maupun abrasi. Akibatnya, penghidupan masyarakat yang banyak bekerja sebagai nelayan serta petani cengkeh dan pala  menjadi terancam. Di Morella, USAID APIK melakukan berbagai kegiatan seperti memfasilitasi pembentukan Pokmas, menggelar pelatihan, diskusi, kajian risiko bencana, dan rencana aksi untuk meningkatkan ketangguhan.

Sebagai fasilitator dan anggota Pokmas, Ama belajar melakukan kajian risiko, memetakan wilayah desa secara partisipatif, mengidentifikasi rencana aksi berdasarkan kerentanan yang dihadapi, dan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Negeri. “Saya sebelumnya tergabung dalam kelompok konservasi laut yang rutin membersihkan daerah pantai di Morella. Kemudian saya tahu tentang kegiatan USAID APIK, dan tertarik untuk ikut. Dari kegiatan bersama APIK, saya jadi tahu tentang ancaman yang terjadi di negeri, dan bersama Pokmas, membuat rencana tindak lanjut,” kata Ama. Ama sendiri adalah seorang sarjana Ilmu Kelautan dari Fakultas Perikanan Universitas Pattimura, oleh karena itu tak heran jika ia tertarik dengan isu lingkungan.

Menurut Ama, Pokmas lalu membuat proposal guna merealisasikan ide pengering tenaga surya (solar dryer) untuk mengatasi keluhan masyarakat tentang pengeringan cengkeh dan pala yang tidak maksimal dan pembibitan untuk peremajaan tanaman. Proposal diserahkan ke PT. Pertamina Terminal Bahan Bakar Minyak Wayame yang kemudian pada Februari 2018 menyetujuinya dan menggelontorkan sejumlah dana.

Ama mewakili Pokmas Hausihu saat menandatangani nota kesepahaman bersama USAID APIK dan PT. Pertamina. (Foto: Enggar Paramita/USAID APIK).

“Kami anggota Pokmas Hausihu rata-rata bertemu setiap minggu. Ada 30 orang yang menjadi anggota, dan sekitar sepertiganya adalah perempuan. Namun, tak semua aktif karena ada tuntutan pekerjaan dan mengurus rumah. Saya tergolong yang aktif. Kami biasanya berdiskusi dan melakukan pemantauan kegiatan. Bagaimana solar dryer dipakai di masyarakat, apakah berfungsi dengan baik, memeriksa kondisi pembibitan, berapa bibit yang siap, yang sudah dibagikan ke masyarakat, dan sebagainya. Kami juga sedang menyusun laporan pertanggungjawaban, dan telah membuat proposal baru untuk Pertamina. Yang kami ajukan dalam proposal baru adalah papan informasi cuaca dan iklim. Dengan papan tersebut, masyarakat dapat mengetahui perkiraan cuaca dan iklim sebagai bekal mereka bercocok tanam dan pergi melaut. Moga-moga Pokmas kembali dipercaya Pertamina,” ungkap Ama.

Ama mengaku tak pernah mendapat halangan dalam menjalankan tugasnya di Pokmas. Di Morella, semangat kesetaraan terlihat dari banyaknya perempuan yang terlibat dalam kegiatan dan organisasi, dan ikut serta dalam proses Musyawarah Rencana Pembangunan Negeri. “Menurut saya, peran perempuan tidak cuma urus konsumsi, dapur, atau rumah, tapi harus ikut dalam kegiatan pelatihan yang dapat meningkatkan kapasitas, dan juga terlibat dalam organisasi. Kita punya talenta, punya pemikiran, tapi kadang tidak PD (percaya diri). Selain itu, kadang kita tidak sadar kalau kita punya suatu keahlian, dan ini baru ketahuan saat kita berorganisasi. Itu mengapa, bergaul dan berorganisasi penting bagi perempuan untuk mengasah diri,” jelasnya.

Ama pun bertekad memperdalam kemampuannya, dan berbekal pengalaman dengan Pokmas, ia melamar menjadi fasilitator di program Generasi Sehat dan Cerdas. Ama lolos seleksi dokumen dan tahap wawancara, dan pada Agustus 2018 resmi bertugas sebagai fasilitator lapangan di Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Ini adalah kali pertama Ama merantau dan ia harus belajar isu baru, yaitu stunting. “Orang tua masih ragu-ragu melepas saya. Tanimbar Utara itu jauh. Dari Ambon naik pesawat dulu ke Saumlaki selama 1 jam 40 menit, lalu lanjut naik bus 4-6 jam. Tapi karena saya memang mau cari pengalaman, mau belajar, maka saya tetap jalan (berangkat). Dan terbukti, saya baik-baik saja. Pengetahuan saya berkembang, saya belajar masalah kesehatan, stunting di kalangan anak balita dan ibu. Saya memperhatikan kondisi desa dan menganalisisnya. Saya buktikan bahwa saya bisa, saya mampu,” kata Ama berapi-api.

Ama di Terminal Omele, Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. (Foto: Pattiwael Huwae Hedy).

Lebih lanjut Ama menceritakan bahwa jika biasanya hanya bertugas di negeri sendiri, maka di Tanimbar Utara ia bertanggung jawab untuk menangani delapan desa. Untuk menyiasatinya, Ama pun beradaptasi, bersosialisasi dengan masyarakat untuk memahami karakter masing-masing desa. Ia juga melakukan pendekatan ke pemerintah desa, posyandu, dan puskesmas setempat. Di samping itu, Ama yang awalnya merasa khawatir dengan keberadaannya sebagai minoritas (Ama seorang muslim, sementara rata-rata masyarakat di Tanimbar beragama Kristen), ternyata justru mendapat pengalaman yang positif. “Masyarakat di Tanimbar semua ramah-ramah. Toleransi beragama sangat tinggi. Semua saling menghormati, saling menghargai orang lain, dan saya disambut dengan hangat. Bahkan saat awal Desember proyek selesai, pak camat menahan saya untuk tinggal agar dapat merasakan kegembiraan perayaan natal di sana,” jelas Ama.

Pengalaman di Tanimbar Utara membuat Ama semakin percaya diri. Pengetahuan dan pelatihan yang ia tekuni bersama APIK dan Pokmas menjadi dasar baginya untuk maju. Ia merasa semakin yakin ingin bekerja untuk masyarakat. Menurut Ama, teman-teman perempuan lain tak perlu takut jika ingin maju. “Yang penting harus yakin, membuka diri untuk kesempatan, dan mau belajar,” tegasnya.

Selama bertugas di Tanimbar, Ama tetap mengurus Pokmas. Ia rutin berdiskusi dengan pengurus lainnya lewat telepon. Sekembalinya ke Morella, Ama penuh dengan ide yang ingin ia kembangkan. Misalnya, ia sangat terkesan dengan konsep pekarangan yang ditanami Toga (tanaman obat keluarga) juga kelor (Moringa oleifera). Kelor dikenal sebagai makanan bernutrisi tinggi, dan direkomendasikan oleh organisasi kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (WHO) dan organisasi pangan dan pertanian (FAO) untuk peningkatan gizi keluarga. Namun menurutnya, berhasil tidaknya kegiatan di masyarakat akan bergantung pada masyarakatnya sendiri. Oleh sebab itu, ide-ide harus didiskusikan lebih lanjut dengan masyarakat.

Saat ini, Ama bekerja sebaga tenaga honorer di Pangkalan Utama Angkatan Laut 9, Ambon sembari mengurus Pokmas di akhir pekan. Ia bertekad untuk terus mencari pengalaman dan berbakti kepada masyarakat. Semangat, Ama!

(Penulis: Enggar Paramita, Communication Specialist USAID APIK)