Rabu, 30 Januari 2019

Delapan Belas Kelompok Siaga Bencana Siap Bangun Ketangguhan Kendari

Fasilitasi pembentukan KSB di tingkat desa, Kota Kendari. Foto: Tim APIK Sulawesi Tenggara

Belasan ribu jiwa tercatat sebagai korban terdampak banjir dan longsor yang merupakan bencana paling potensial di Kota Kendari (BPBD, 2017). Selain itu, dalam rencana kontinjensi Kota Kendari tahun 2018, banjir, longsor dan puting beliung adalah bencana yang paling berpotensi menyebabkan korban jiwa serta kerugian harta benda. Untuk menghadapi fenomena ini, kesiapsiagaan menjadi modal utama pemerintah dan masyarakat, di mana keberadaan Kelompok Siaga Bencana (KSB) dapat menjadi salah satu solusi dalam memperkuat kapasitas keduanya untuk membangun kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana. KSB bekerja di tingkat kelurahan, dan terdiri antara lain dari perangkat desa, pemuda, petani, anggota masyarakat. KSB berperan sebagai tim inti di masyarakat yang menangani kebencanaan termasuk memimpin proses evakuasi saat bencana terjadi.

Sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Menghadapi Bencana, USAID APIK bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari berupaya membangun ketangguhan Kota Kendari dengan memfasilitasi pembentukan KSB di 18 kelurahan terpilih di 9 kecamatan. Pembentukan diawali dengan diskusi antara Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB), lurah di 18 kelurahan dengan BPBD Kota Kendari pada akhir tahun 2018 lalu.

Kegiatan pembentukan KSB dimulai dari Kelurahan Tobuha, Kecamatan Puuwatu pada tanggal 9 Januari 2019 dan diikuti oleh sebanyak 29 orang dari unsur Rukun Tetangga/Rukun Warga (RT/RW) dan kelurahan. Kegiatan ini dilanjutkan dengan penguatan materi dan penentuan kepengurusan KSB. Pada kesempatan ini, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Kendari, Suhardin, S.Sos, M.Si hadir membuka kegiatan.

“BPBD telah memulai kerja sama dengan USAID APIK sejak tahun 2016 untuk menghadapi bencana yang terjadi di Indonesia, khususnya di Kota Kendari. Inisiatif pembentukan KSB tingkat kelurahan ini salah satu bentuk konkretnya,” ungkap Suhardin.

Dalam acara tersebut, Andi Ikhsan selaku Disaster Risk Reduction Specialist USAID APIK Sulawesi Tenggara turut memaparkan informasi umum  tentang APIK  dan kolaborasi yang dilakukan dengan BPBD terkait pembentukan KSB. Selain itu, Lurah Tobuha, Iqra Alfajri, M.Si juga menyampaikan sejarah kebencanaan di wilayahnya, diikuti dengan komitmen serta harapan dengan adanya KSB.  “Kami berharap pembentukan KSB ini dapat membantu menangani bencana di sini. Namun, seluruh masyarakat juga harus turut mendukung dengan menjaga kebersihan lingkungan, karena sampah adalah pemicu utama terjadinya bencana bajir di Tobuha,” tutur Iqra.

Semua peserta terlihat antusias dalam mengikuti pemaparan materi yang meliputi konsep perubahan iklim dan Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (API-PRB), peran KSB dalam rencana pembangunan, dan manajemen penanggulangan bencana.

Pembentukan KSB masih akan diimplementasikan sepanjang Februari-Maret 2019 di 17 kelurahan terpilih lainnya, yang akan diikuti dengan penyusunan aksi rencana tindak lanjut, pengesahan KSB melalui Surat Keputusan Lurah, dan rangkaian kegiatan penguatan kapasitas agar masyarakat lebih memahami aspek API-PRB dan tangguh menghadapi bencana.

(Penulis: Sitti Zahara & Siti Ratna, Field Coordinator Kota Kendari USAID APIK)

Also available in English