Rabu, 16 Januari 2019

Mengubah Drainase jadi Sarana Pendidikan Konservasi

Drainase perkotaan citranya buruk. Di situ semua limbah cair, padat, bahkan sampah dari berbagai sumber singgah sebelum berakhir di sungai. Banjir perkotaan selalu terkait dengan buruknya sistem drainase yang kenyataannya lebih sering menjadi tempat sampah daripada berfungsi sebagai saluran air. Tapi di Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, Musa Khusainudin memimpin sekelompok anak muda untuk membuat drainase di kampung mereka menjadi sebuah media untuk mengubah perilaku.

Ide Musa dan para pemuda tersebut tak biasa. Mereka mengubah drainase yang penuh sampah menjadi sarana untuk konservasi ikan.  Dengan konsep konservasi, maka ikan tersebut tidak dipanen, tetapi dibiarkan berkembang biak. Gagasan ini berawal dari keprihatinan Musa yang ingat betul bahwa drainase di kampungnya dulu adalah anak sungai yang mengalirkan air ke Sungai Brantas. “Kali itu dulunya jernih, ada ikannya, kadang kita memancing belut. Tapi kini situasinya berubah, banyak orang mengatakan bahwa sungai ini sudah kotor, beracun,” jelas Musa.

Kelurahan Sisir memiliki letak strategis di pusat Kota Batu, dan merupakan lokasi kantor walikota dan alun-alun kota. Namun Kelurahan Sisir termasuk wilayah yang memiliki kerawanan tinggi terhadap banjir dan longsor. Gagalnya sistem drainase memicu banjir, dan banyaknya bangunan baru di sempadan sungai menyebabkan longsor. Guna mengurangi risiko bencana di kelurahannya, Musa ikut  memelopori berdirinya relawan bencana yang diberi nama “Sisir Tangguh”. Kelompok relawan pun mulai melakukan berbagai kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana yang didukung penuh oleh lurah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu.

USAID APIK turut memfasilitasi relawan meningkatkan kapasitas mereka dengan melibatkan kelompok dalam perencanaan penanggulangan bencana di tingkat kelurahan. Alhasil, di tahun 2016, Kelurahan Sisir terpilih menjadi salah satu kelurahan yang tergolong Desa Tangguh Bencana di kategori Pratama, yang diperuntukkan bagi desa/kelurahan yang baru memulai usaha-usaha membangun ketangguhan terhadap bencana.

Bagi Musa, ketangguhan tidak cukup dengan menyusun sebuah dokumen perencanaan, namun  hanya bisa terwujud jika masyarakat mempunyai kesadaran dan mengubah perilaku agar tidak merusak lingkungan. Musa melihat bahwa masalah utama warga kampungnya adalah praktik buang sampah di kali atau drainase. Musa bercerita, “Kami sudah sering membersihkan sungai atau saluran, tetapi itu tidak bertahan lama. Setelah beberapa waktu, warga kembali kepada perilaku lama. Oleh karena itu, perlu cara berbeda untuk menyelesaikan masalah sampah ini,” katanya. Akan tetapi Musa juga sadar bahwa menggerakan masyarakat bukan perkara mudah. Masyarakat perlu contoh sederhana, yang dapat dilihat kapan saja, dan yang terpenting, berkontribusi menyelesaikan masalah mereka.

Musa kemudian melakukan pendekatan baru dengan berembuk melibatkan masyarakat sebelum membersihkan saluran. Masyarakat diajak membicarakan rencana lebih lanjut setelah saluran dibersihkan. Mereka lalu setuju untuk melepas ikan di saluran tersebut dan membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) untuk memastikan ikan tersebut dapat hidup. Pokmaswas ikut  mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang sampah di saluran tersebut.

Warga lalu bersepakat untuk melepas jenis ikan endemik di Kota Batu, yaitu ikan Tombro Punten. Ikan tersebut adalah sejenis ikan mas dari Desa Punten yang ada di Kota Batu. Berbagai pihak termasuk Unit Pengelola Budi Daya Ikan Tawar Punten menyumbang ikan untuk dilepas di drainase.

Musa Khusainudin di tengah drainase tempat ikan berkembang biak. Ikan dibiarkan hidup di sepanjang anak sungai yang bermuara ke Sungai Brantas.

Dengan adanya budi daya ikan, situasi mulai berubah.  Drainase yang dulunya dijauhi oleh warga karena kotor, sekarang ramai didatangi warga yang ingin melihat ikan berenang-renang di saluran air. Warga enggan membuang sampah setelah melihat banyak ikan di saluran tersebut. Masalah sampah perlahan mulai teratasi.

Jika awalnya ikan hanya dibudidayakan di saluran sepanjang 100 meter, maka warga kemudian berinisiatif memperluas kolam pemeliharaan ikan menjadi 200 meter. Ikan-ikan tersebut tidak dipanen, walaupun memancing masih diperbolehkan. Musa menambahkan, “Ikan-ikan akan menjadi penanda apakah saluran kita terkontaminasi oleh limbah berat atau tidak. Jika ada ikan yang mati, maka kita bisa lebih cepat mengetahuinya,” katanya. Tak hanya menggerakan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, maka ikan-ikan tersebut juga menjadi semacam indikator.

Apa yang dikerjakan oleh Musa dan Pokmaswas merupakan tindakan nyata adaptasi perubahan iklim yang cerdas karena menyasar perubahan perilaku masyarakat. Laporan Proyeksi Iklim tahun 2016 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebutkan bahwa Kota Batu akan mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan dalam 15 tahun ke depan. Peningkatan ini akan memperburuk risiko banjir perkotaan, terutama yang sistem drainasenya terkendala. Strategi adaptasi Musa dan masyarakat di Kelurahan Sisir merespon permasalahan drainase dengan kreatif, tepat sasaran, dan karena merupakan upaya masyarakat, maka timbul rasa kepemilikan yang kuat sehingga dapat terus berkelanjutan.

(Penulis: Yovianus Sakera, Disaster Risk Reduction Specialist APIK Jawa Timur)