Kamis, 20 Desember 2018

Sasi Lompa, Kearifan Lokal Penjaga Alam

Ban kempis harus dipompa 

Pompa saja berulang-ulang

Dengar buka sasi lompa

Tanda Haruku panggel pulang

Kalau mau menanam nangka

Tanam saja di dalam tanah

Beta jua seng pernah sangka

Sasi terkenal di mana-mana

‘Kapata’ ini sering disampaikan Eliza Kissya, kepala kewang (tetua adat) Negeri Haruku, Kabupaten Maluku Tengah setiap mengisi acara seminar, pertemuan, maupun pendidikan kader di tingkat nasional maupun internasional. Kapata, –ucapan tetua adat yang biasanya disampaikan dalam bentuk pantun–  ini juga tak hentinya diucapkan saat menjamu tamu, menggambarkan betapa dijunjungnya adat di Haruku, termasuk di dalamnya tradisi sasi lompa.

Sasi adalah aturan adat di Maluku yang melarang pengambilan sumber daya alam dalam kurun waktu tertentu.  Peraturan tersebut lahir sebagai bentuk kepedulian dan penghargaan terhadap alam. Dengan sasi, pengelolaan sumber daya alam diatur sehingga berkelanjutan. Sasi masih diterapkan hingga kini, dengan larangan yang berbeda-beda di setiap wilayah sesuai dengan sumber daya alam yang dianggap berharga bagi masyarakat, misalnya hasil hutan dan ikan tangkap. Pada sasi hutan, di area sekitar hutan diberi tanda agar masyarakat tidak mengambil hasil hutan seperti kelapa, kenari, pinang, dan cempedak. Biasanya sasi berlaku dalam hitungan jangka waktu tertentu, misalnya tiga bulan, enam bulan, atau bahkan hingga tahunan. Kewang bertugas menegakkan sasi dan menimbang jika sasi perlu diperpanjang lewat persidangan adat yang dilakukan setiap minggu.

Di Negeri Haruku, salah satu sasi yang diberlakukan adalah sasi lompa. Sasi lompa adalah larangan menangkap ikan lompa (Thryssa baelama), sejenis ikan sarden kecil. Sasi lompa merupakan perpaduan sasi laut dan sungai, karena ikan ini hidup di sungai dan laut. Sasi ini sudah berlangsung sejak abad ke-15 dan menjadi identitas Negeri Haruku karena sasi terhadap jenis ikan ini tidak bisa ditemui di tempat lain.

Sungai Learisa Kayeli adalah tempat yang disakralkan di Negeri Haruku, karena di sungai inilah acara buka dan tutup sasi ikan lompa diselenggarakan setiap tahunnya. Muara sungai menjadi jalur lalu lintas dan tempat berkembang biak ikan lompa, mengikuti siklus pasang surut laut. Ikan tersebut baru bisa dipanen setelah 5–7 bulan dari pertama kali muncul di sungai.

Biasanya di bulan Februari atau Maret, acara tutup Sasi dilakukan. Kewang menancapkan tonggak kayu dengan ujung dililit daun kelapa muda, tanda sasi diberlakukan. Mulai saat itu, masyarakat tidak boleh menangkap ikan lompa di muara sungai sampai beberapa kilometer ke arah laut dengan alat dan cara apapun, tidak boleh menghidupkan mesin motor kapal, membuang sampah, serta mencuci alat dapur di Sungai Laerisa Kayeli karena ditakutkan dapat mencemari air.

Ketaatan masyarakat terhadap sasi bukanlah sesuatu yang teradi begitu saja. Kewang menjatuhkan sanksi adat untuk pelanggar sasi, misalnya denda berupa uang untuk orang dewasa, dan pukulan rotan bagi anak. Pukulan ini tak keras, namun untuk memberi efek jera. Hukuman yang berlaku membuat adanya kontrol sosial, sehingga masyarakat hingga kini terbiasa menaati sasi.

Buka Sasi Lompa, Pesta yang Selalu Ditunggu-tunggu

Menjelang acara pembukaan sasi, para kewang sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan yang mendukung terselenggaranya acara, mulai dari membuat simbol sasi, obor dari daun kelapa atau disebut lobe, hingga membacakan aturan adat ke masyarakat saat berjalan keliling kampung untuk menyambut buka sasi. Ada hal yang menarik pada proses pembuatan lobe, yakni daun kelapa yang digunakan tidak boleh diambil dari sembarang tempat, namun setiap pemangku adat harus mengambil dari kebunnya masing-masing dan diwajibkan membawa satu lobe sebagai prasyarat buka sasi. Menjelang matahari terbit, kewang beserta pemangku adat lainnya akan membakar lobe di dekat muara sungai. Kegiatan ini dilakukan setiap hari selama 1–2 bulan hingga buka sasi dilakukan.

Tangkap Ikan

Tangkap Ikan. Foto: Maun Kusnandar/USAID APIK 

Bunyi suara tifa di akhir September 2018 lalu menandai dimulainya buka sasi lompa. Masyarakat baik dari Haruku maupun dari luar pulau berbondong-bondong datang untuk menangkap ikan lompa. Mereka mengambil bagian di sisi sungai, menceburkan diri, dan bergerak cepat menangkap ikan berbekal jala maupun ember. Menurut tradisi, janda dan anak-anak yatim piatu dipersilahkan lebih dulu mengambil ikan sampai mereka merasa cukup, baru kemudian khalayak umum boleh memanen. Kegiatan menangkap ikan berlangsung hingga sore, dan setelahnya masyarakat kembali ke rumah untuk mengolah hasil tangkapan dan mengawetkannya dengan metode pengasapan. Ikan yang diawetkan disimpan sebagai persediaan makanan saat gelombang tinggi (Musim Timur) terjadi dan ikan menjadi sulit ditangkap. Dengan adanya stok makanan, maka dapat mengurangi kekhawatiran dalam pemenuhan kebutuhan pokok, sehingga masyarakat bisa fokus untuk bekerja di hutan maupun di kebun. Tradisi menyimpan ikan ini merupakan bagian dari upaya ketahanan pangan masyarakat Haruku dalam menghadapi dampak negatif dari perubahan iklim.

Di Negeri Haruku, USAID APIK mendukung langkah masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan, salah satunya dengan bekerja sama dengan kelompok masyarakat (Pokmas) dan kelompok kewang dalam mengembangkan pertanian organik di pekarangan. Pemanfaatan halaman untuk menanam sayur merupakan langkah awal untuk menjamin kemandirian pangan tanpa harus bergantung pada pasokan dari luar yang seringkali terkendala oleh cuaca yang semakin tak menentu. Selain itu, isu Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana juga diarusutamakan dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa, terlihat dari penanaman mangrove di sepanjang garis pantai untuk membantu mengatasi ancaman abrasi, rehabilitasi talud, dan pembuatan tambatan perahu. Harapan besarnya tentu saja agar Haruku tak hanya hidup selaras dengan alam namun juga tangguh menghadapi perubahan iklim.

(Penulis: Richard Lokollo, Field Coordinator Haruku dan Wassu USAID APIK Maluku)

Also available in English