Rabu, 5 Desember 2018

USAID APIK Resmikan Sistem Peringatan Dini untuk Kesiapsiagaan Masyarakat Hadapi Banjir  

USAID APIK Resmikan Sistem Peringatan Dini untuk Kesiapsiagaan Masyarakat Hadapi Banjir
USAID APIK Resmikan Sistem Peringatan Dini untuk Kesiapsiagaan Masyarakat Hadapi Banjir

Mojokerto, 5 Desember 2018 – USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK) bersama Kelompok Siaga Bencana Desa Kalikatir, Dilem, dan Begaganlimo meresmikan sistem peringatan dini (early warning system) banjir berbasis komunitas yang dipasang di sekitar Sungai Klorak, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Sistem peringatan dini akan membantu masyarakat di ketiga desa untuk lebih siap siaga dalam menghadapi banjir bandang. Di samping peluncuran sistem peringatan dini, simulasi bencana banjir bandang juga digelar bersama masyarakat.

“Di musim penghujan seperti sekarang, Kabupaten Mojokerto berpotensi terkena banjir bandang dan tanah longsor, oleh karena itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mendukung upaya APIK, karena sistem peringatan dini dapat mengurangi dampak dan kerugian yang dialami masyarakat. BPBD juga mendorong masyarakat untuk merawat dan melakukan pengawasan bersama agar sistem dapat terus bermanfaat. Tentunya, masyarakat perlu mendapat pelatihan khusus, sehingga dapat mengatasi permasalahan teknis yang mungkin terjadi,” kata Puji Andriati, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Mojokerto.

Pemasangan sistem peringatan dini di tepi Sungai Klorak diawali dengan Kajian Kerentanan dan Risiko Iklim yang dilakukan USAID APIK bersama BPBD, pihak swasta, warga, dan Kelompok Kerja Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (API-PRB). Dari kajian tersebut, diketahui desa-desa yang berada di pinggir Sungai Klorak yakni Desa Kalikatir, Dilem, dan Begaganlimo rentan terhadap banjir dan longsor. Hal ini terbukti dari kejadian banjir yang menimpa Desa Kalikatir pada 26 Maret 2017, di mana desa yang berada di area lebih rendah dibandingkan Begaganlimo dan Dilem ini diterjang banjir bandang setelah hujan turun terus-menerus selama dua jam. Akibatnya, puluhan rumah terendam lumpur setinggi 80 cm, lahan pertanian rusak, hewan ternak dan motor hanyut terbawa arus.

Sistem peringatan dini memberikan informasi tentang curah hujan dan ketinggian air di sungai, sehingga masyarakat dapat bertindak sesuai dengan kondisi tersebut. Peralatan yang dipasang terdiri dari: 1) Automatic Rain Gauge (ARG) yang berfungsi mengukur curah hujan, temperatur, dan kelembapan; 2) Automatic Water Level Recorder (AWLR) untuk mengukur tinggi muka air; dan 3) sirine tanda bahaya. Sensor pada ARG dan AWLR merekam data sekitar, mengirimnya ke gateway, di mana data akan diolah dan dianalisis untuk menghasilkan tiga tingkatan status bencana: waspada, siaga, dan awas. Sirine pun akan memberikan peringatan ke masyarakat untuk siap siaga.

Sistem peringatan dini yang dipasang memiliki keunggulan antara lain transfer data dari sensor sistem ke gateway menggunakan teknologi Lo-Ra (long range), yang memungkinkan pengiriman dan penerimaan data dengan jangkauan luas tanpa memerlukan jaringan seluler. Selain menghemat biaya karena tak perlu membayar biaya jaringan seluler, Lo-Ra juga lebih memadai untuk daerah terpencil. Di samping itu, perangkat dibuat dengan basis open source dan menggunakan komponen yang mudah ditemui di pasar, sehingga lebih mudah dibuat ulang.

Tak hanya menyiapkan perangkat, kapasitas masyarakat juga menjadi perhatian APIK agar sadar akan hal kebencanaan dan mampu mengelola sistem peringatan dini secara mandiri. Hal ini diwujudkan dengan mendampingi masyarakat dalam pembentukan Kelompok Siaga Bencana (KSB), melakukan sosialisasi dan pelatihan tentang sistem peringatan dini, menyusun rencana kontingensi, dan mengadakan simulasi bencana. Eko Ferino, anggota KSB Desa Begaganlimo mengatakan, “Ini merupakan kali pertama kami mendapat penguatan tentang kesiapsiagaan bencana. Sebagai anggota  KSB kami bertanggung jawab menjadi penggerak utama dalam aksi pengurangan risiko bencana dan juga saat bencana terjadi. Di KSB juga terdapat penanggung jawab yang bertugas menyampaikan informasi terkait situasi yang berpotensi bencana ke kepala desa dan masyarakat,” ungkapnya.

Ardanti Sutarto, Manajer Regional Jawa Timur Program USAID APIK menjelaskan, “APIK terus berupaya untuk mengimplementasikan aksi adaptasi dan pengurangan risiko bencana di wilayah kerjanya termasuk di Kecamatan Gondang, Mojokerto. Dalam pelaksanaan kegiatan, kami melibatkan masyarakat, pemerintah desa, dan BPBD agar timbul rasa kepemilikan sehingga keberlanjutan aksi tersebut lebih terjamin. Kami pun berharap agar daerah lain dapat mereplikasi sehingga pada akhirnya, ketangguhan masyarakat pun meningkat,”.

Kontak wawancara: Ardanti Sutarto – Manajer Regional Jawa Timur Program USAID APIK – email: Ardanti_Sutarto@dai.com dan HP 0811-2556-707

Kontak media dan permintaan foto: Enggar Paramita – Spesialis Komunikasi Program USAID APIK – email: Enggar_Paramita@dai.com dan HP 0811-1772-687

Catatan untuk editor:

  • Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) untuk membantu Indonesia mengelola risiko bencana dan iklim. APIK bekerja memperkuat kapasitas Pemerintah Indonesia di tingkat nasional, provinsi, hingga tingkat lokal. Dengan menggunakan pendekatan lanskap, APIK juga bekerja langsung dengan masyarakat dan sektor bisnis agar secara proaktif mengelola risiko, serta meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan untuk mengakses, memahami, dan mengomunikasikan informasi iklim. Informasi lebih lanjut tentang APIK kunjungi apikindonesia.or.id