Selasa, 13 November 2018

Kemitraan USAID APIK dan Kalla Kakao Industri Dorong Kemajuan Petani Kakao

Konawe Selatan, 13 November 2018 – USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK) dan PT. Kalla Kakao Industri (KKI) menandatangani perjanjian kerja sama yang dilaksanakan di Desa Puurema Subur, Kabupaten Konawe Selatan. Penandatanganan ini mengesahkan komitmen kedua belah pihak untuk meningkatkan ketangguhan petani kakao di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara dalam menghadapi perubahan iklim maupun cuaca ekstrem yang semakin tak menentu.

Tanaman cokelat atau kakao merupakan salah satu komoditas utama Indonesia. Dengan produksi mencapai 300.000-400.000 ton per tahun[1], Indonesia berada di peringkat ketiga penghasil kakao terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Sulawesi Tenggara sejak dulu dikenal sebagai pemasok kakao utama, dengan sentra kakao di antaranya berada di Kabupaten Konawe Selatan. Kakao sendiri merupakan hasil perkebunan terbesar di Konawe Selatan yang di tahun 2016 mencapai 28,35 ton, dengan nilai lebih dari Rp 449 juta rupiah[2]. Akan tetapi, produktivitas kakao terancam menurun, salah satunya karena fenomena perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Melihat kondisi tersebut, USAID APIK bekerja sama dengan PT. KKI dalam bentuk penguatan kapasitas petani kakao, yang diselaraskan dengan Program Kakao Lestari yang dikelola oleh Yayasan Hadji Kalla. Kolaborasi ini akan melatih 10 orang anggota tim Program Kakao Lestari, serta 100 petani binaan di dua desa di Kecamatan Lalembu, Konawe Selatan yang dijadikan lokasi percontohan yaitu Puurema Subur dan Puunangga. Tenaga ahli dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), dan Dinas Pertanian turut dilibatkan dalam kegiatan.

Dwi Dharmadayana, Program Manager Kakao Lestari mengatakan, “Di lapangan, terlihat sekali bahwa perubahan cuaca ekstrem mengancam produksi secara signifikan. Misalnya saja di tahun ini, pertumbuhan buah cukup bagus, namun kemudian di bulan kelima dan enam terjadi hujan intens yang mengakibatkan busuk buah, sehingga kualitas buah pun rendah, bahkan sampai tak bisa dijual. Kondisi busuk buah ini sangat mengguncang petani,” ungkapnya. Oleh karena itu, Dwi berharap bekal pengetahuan cuaca dan iklim dari USAID APIK dapat disinergikan dengan pengetahuan cara bercocok tanam yang baik (good agricultural practice) sehingga membantu petani dalam mengelola kebunnya.

KKI memiliki kapasitas 35.000 ton dan menghasilkan produk kakao intermediate berupa bubuk, mentega (butter), cake, dan liquor yang diekspor ke negara Eropa seperti Jerman dan Belanda. Selama ini suplai didapat dari berbagai daerah termasuk Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Achmad As, Sustainability Supervisor PT. KKI menambahkan, “Aspek iklim seringkali dianggap sepele, padahal implikasinya sangat besar terhadap kakao, karenanya, PT. KKI senang dapat bermitra dengan USAID APIK, karena kerja sama ini tak hanya memberdayakan masyarakat dan meningkatkan produksi, tapi juga mendukung perekonomian daerah. Yang pasti, kita tak ingin kakao hanya tinggal kenangan akibat produksinya terus menurun,” tutur Achmad.

Manajer Regional Sulawesi Tenggara APIK, Buttu Ma’dika mengungkapkan, “Pihak swasta seperti PT. KKI memiliki peran penting untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat, dan dengan komitmennya yang tinggi, maka kami percaya kolaborasi ini akan membawa hasil yang menggembirakan untuk petani kakao di Konawe Selatan. Selain itu kami juga berharap rangkaian penguatan kapasitas ini dapat diadopsi oleh KKI dan aspek iklim akan diperhitungkan dan terintegrasi dalam perencanaan bisnis KKI,” katanya.

Kemitraan USAID APIK dan PT. KKI dimulai dengan kajian awal, disusul dengan penentuan strategi, pelatihan, serta pembuatan panduan. Proses tersebut akan berlangsung Desember 2018 hingga Juli 2019. Pembelajaran dari kolaborasi ini akan disebarluaskan sehingga dapat menginspirasi daerah lain yang juga memiliki potensi kakao.

Kontak wawancara:

  • Buttu Ma’dika – Manajer Regional Sulawesi Tenggara Program USAID APIK – email: Buttu_Madika@dai.com dan HP 0852-5529-7282
  • Achmad As – Sustainability Supervisor PT Kalla Kakao Industri – HP 0852-4179-1449

Kontak media dan permintaan foto: Enggar Paramita – Spesialis Komunikasi Program USAID APIK – email: Enggar_Paramita@dai.com dan HP 0811-1772-687

Catatan untuk editor:

  • Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) untuk membantu Indonesia mengelola risiko bencana dan iklim. APIK bekerja memperkuat kapasitas Pemerintah Indonesia di tingkat nasional, provinsi, hingga tingkat lokal. Dengan menggunakan pendekatan lanskap, APIK juga bekerja langsung dengan masyarakat dan sektor bisnis agar secara proaktif mengelola risiko, serta meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan untuk mengakses, memahami, dan mengomunikasikan informasi iklim. Informasi lebih lanjut tentang APIK kunjungi apikindonesia.or.id
  • Kalla Kakao Industri (KKI) adalah salah satu anak perusahaan Kalla Group yang bergerak di bidang pengolahan kakao dan merupakan penghasil kakao setengah jadi seperti cokelat bubuk, mentega (butter), cake, dan liquor. Berlokasi di Konawe Selatan, KKI berkomitmen untuk mempraktikkan kerja sama yang bertanggung jawab dengan petani dan mewujudkan perekonomian kakao yang layak, ramah lingkungan, dan diterima baik oleh masyarakat. Pabrik KKI berkapasitas 35.000 ton dan hasil produksinya telah diekspor ke negara Eropa seperti Belanda dan Jerman. Selengkapnya di www.kallakakao.co.id

[1] Statistik 10 Komoditi Utama dan Potensial, Kementerian Perdagangan, 2017

[2] Kabupaten Konawe Selatan dalam Angka 2017, Badan Pusat Statistik Kabupaten Konawe Selatan