Kamis, 27 September 2018

Sekolah Lapang Iklim Berdayakan Petani Tebu Malang

Malang, 27 September 2018 –  USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK), Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dinas Pertanian, bersama dua puluh lima petani  secara resmi menutup kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) tebu melalui panen raya yang digelar di Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. SLI tebu dimulai sejak Oktober 2017 dan merupakan sarana belajar petani untuk memperdalam pengetahuan tentang teknik budi daya serta penggunaan informasi cuaca dan iklim.

“Sektor pertanian sangatlah terdampak oleh perubahan iklim, tak terkecuali tanaman tebu. Supaya tumbuh dengan baik, maka tebu harus ditanam di waktu yang tepat. Agar dapat melakukan hal tersebut, maka petani harus melek iklim, dan karena itulah kami lakukan SLI tebu,” kata Anung Suprayitno, SSi., Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Klimatologi Malang.

Tebu adalah komoditas unggulan Jawa Timur. Sebagai lumbung tebu nasional, Jawa Timur berkontribusi sebanyak 1,25 juta ton dari total produksi nasional 2,33 juta ton[1]. Perkebunan tebu tersebar di berbagai wilayah di antaranya Jember, Kediri, Lamongan, dan Malang. Di Kabupaten Malang, USAID APIK menggandeng petani tebu di Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur.

Dalam SLI tebu, petani belajar tentang cara pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma dan hama, mengamati lingkungan sekitar kebun, mengukur suhu udara, serta menganalisis kondisi tanah. Selama 10 bulan, petani belajar bersama di tepi kebun dan langsung mempraktikkan apa yang mereka pelajari di petak percontohan (demonstration plot/demoplot). Selain itu, SLI juga mendorong petani untuk memproduksi benih tebu berkualitas. Para petani di Wonokerto mengaku mereka masih menggunakan bibit dari sumber yang ditanam 7 tahun lalu. Padahal, menurut Pusat Penelitian Perkebunan Gula (P3GI) Pasuruan, penggunaan bibit melebihi 3 kali masa panen (3 tahun) dapat mengurangi produktivitas. Petani kemudian menggunakan benih baru dari kultur jaringan P3GI.

Dari hasil ubinan (perhitungan perkiraan panen) sampel yang dilakukan Kamis, 20 September 2018, demoplot SLI seluas 0,5 hektar mampu menghasilkan 60 ton tebu. Dengan angka produksi rata-rata di Kabupaten Malang 90 ton per hektar[2], maka hasil di demoplot amat menjanjikan. Selain itu, uji rendemen sementara di P3GI menunjukkan tebu di demoplot SLI memiliki nilai 14,85, lebih tinggi dari angka rendemen kebun petani di sekitar lokasi demoplot yang memiliki skor 13,77. Nilai ini berarti dalam 1 kuintal tebu di demoplot SLI akan menghasilkan 14,85 kg gula, sementara tebu hasil kebun petani sekitar akan menghasilkan 13,77 kg gula.

Mardianto, peserta SLI tebu sekaligus ketua Kelompok Tani Margo Makmur mengungkapkan pengalamannya, “Saya belajar banyak dari SLI, mulai dari memilih benih yang baik, melihat cuaca untuk tahu kapan menanam, mengatasi hama penggerek pucuk dengan musuh alami, memproduksi benih, sampai menjadi penangkar. Istilahnya, yang saya pelajari itu dari hulu ke hilir. Saya sudah menanam tebu sejak tahun 80an, dan melalui SLI saya tahu pengetahuan maupun perkembangan teknik terbaru,” katanya.

Dalam upaya memberdayakan peserta SLI tebu, APIK juga mendukung petani untuk memperoleh pengakuan resmi untuk benih yang diproduksinya. Bulan April 2018, penangkaran tebu petani SLI mendapat sertifikat dari UPT Pengawasan dan Pengujian Mutu Benih Tanaman Perkebunan Provinsi Jawa Timur. Tak hanya itu, petani SLI berhasil mendapat izin usaha produksi benih tanaman tebu dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jawa Timur di Juli 2018. Dengan mengantongi izin tersebut, maka kualitas benih tak diragukan lagi.

Hal ini kemudian diikuti dengan acara Field Day atau hari temu lapang untuk mempertemukan petani SLI dengan calon konsumen. Di Field Day Agustus lalu, petani dari daerah lain melihat dan tertarik dengan benih yang dimiliki petani SLI dan berkomitmen untuk membeli. Manajer Regional Program USAID APIK, Ardanti Sutarto mengatakan, “APIK sangat bangga bahwa melalui SLI petani tak hanya dapat membudidayakan tebu lebih baik, tapi juga menjadi penangkar benih. Capaian tersebut sungguh melampaui apa yang kami harapkan. Karena keberhasilan SLI ini, PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia (PT. POMI) pun telah mengungkapkan ketertarikannya untuk mencontoh SLI tebu Wonokerto,” jelasnya.

Pembelajaran SLI tebu telah disebarluaskan ke petani di desa lain di Kecamatan Bantur, yakni Desa Rejosari, Rejoyoso, Sumber Rejo, dan Karang Sari. Ke depannya, petani peserta SLI berkomitmen untuk terus membagikan pengetahuan ke petani lain. Mereka juga sepakat untuk mengembangkan kelompok penangkar benih yang diberi nama ‘APIK Rukun Makmur’ serta memperluas relasi lewat Jaringan Benih Antar Lapang (JABAL).

Kontak wawancara: Ardanti Sutarto – Manajer Regional Jawa Timur Program USAID APIK – email: Ardanti_Sutarto@dai.com dan HP 0811-2556-707

Kontak media dan permintaan foto: Enggar Paramita – Spesialis Komunikasi Program USAID APIK – email: Enggar_Paramita@dai.com dan HP 0811-1772-687

Catatan untuk editor:

  • Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi lima tahun dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) untuk membantu Indonesia mengelola risiko bencana dan iklim. APIK bekerja memperkuat kapasitas Pemerintah Indonesia di tingkat nasional, provinsi, hingga tingkat lokal. Dengan menggunakan pendekatan lanskap, APIK juga bekerja langsung dengan masyarakat dan sektor bisnis agar secara proaktif mengelola risiko, serta meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan untuk mengakses, memahami, dan mengomunikasikan informasi iklim. Informasi lebih lanjut tentang APIK kunjungi apikindonesia.or.id

[1] Statistik Tebu Indonesia 2016 oleh Badan Pusat Statistik https://www.bps.go.id/publication/2017/11/10/d1ade8b3b28b2f118c3968d7/statistik-tebu-indonesia-2016.html

[2] Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang https://malangkab.bps.go.id/statictable/2016/09/06/553/luas-dan-produksi-tebu-rakyat-menurut-kecamatan-di-kabupaten-malang–2016.html