Selasa, 5 Desember 2017

Suara Perempuan Bangun Ketangguhan Negeri Ameth

Usi Seli saat diskusi berlangsung
Usi Seli saat diskusi berlangsung

“Katong seng bisa beli sayur kalau (kapal) feri seng datang,  jadi beta pung usul  kebun sayur,”  – Usi Seli , Negeri Ameth.

Usulan pembuatan kebun sayur  yang terlontar dari perempuan bersahaja  asal Negeri (atau setara desa)  Ameth di Kabupaten Maluku Tengah tersebut  menguatkan  premis  bahwa perempuan dan laki-laki  memaknai  adaptasi perubahan iklim secara berbeda sebab masing-masing memiliki pengalaman yang berbeda. Peran-peran gender yang dilekatkan dan dikonstruksi secara sosial pada perempuan, membentuk pengalaman tersebut.

Perlu waktu sekitar dua jam menyeberang dengan kapal reguler dari Ambon untuk sampai ke Negeri Ameth. Posisinya di Kecamatan Nusa Laut dalam jajaran Pulau Lease, berhadapan langsung dengan Laut Banda . Negeri ini dihuni oleh 1.343 orang yang hidup guyub.

Usi Seli adalah satu di antara perempuan yang  hadir dalam rembuk warga  di kantor negeri pada 4 November  2017  lalu.   Pertemuan tersebut melanjutkan seri  rembuk  terdahulu dalam rangkaian pelaksanaan Kajian Risiko Bencana dan Dampak  Perubahan Iklim partisipatif.  Jika pertemuan sebelumnya telah mengidentifikasi kerentanan dan risiko yang dihadapi Negeri Ameth, maka rembuk kali ini mengagendakan penyusunan rencana bagaimana masyarakat Ameth melakukan  penyesuaian terhadap risiko iklim.

Negeri Ameth menghadapi ancaman serius gelombang tinggi dan abrasi.  Gelombang tinggi menimbulkan rantai dampak cukup panjang.  Gelombang tinggi menyebabkan nelayan Ameth tidak bisa melaut, dan alat tangkap  seperti  perahu, rumpon  rusak.  Gelombang tinggi mengganggu lalu lintas transportasi antar pulau, akibatnya tidak hanya pada mobilitas masyarakat, tapi juga menghambat pasokan pangan. Selama ini,  jenis pangan tertentu seperti sayur-mayur  lebih banyak mengandalkan  sumber dari luar Ameth. Secara teratur dalam kondisi cuaca normal,  penduduk Ameth membeli  sayuran dan jenis pangan lain  yang dibawa dari Ambon dan Masohi.  Adanya gelombang  tinggi menyebabkan feri  yang mengangkut bahan dagangan secara reguler  tidak dapat  beroperasi sehingga masyarakat  terpaksa mengandalkan sumber pangan dari dalam negeri yang terbatas variasinya.  Selain itu, gelombang tinggi menyebabkan sejumlah rumah rusak, dan adanya kekhawatiran yang menghinggapi masyarakat.

Sejumlah  peserta laki-laki mengusulkan pembangunan talud penahan ombak, peninggian talud, dan penanaman bakau. Usulan lain yang mengemuka adalah meningkatkan kesiapsiagan masyarakat melalui  pengetahuan tradisional untuk membaca  gejala alam yang disebut “nanaku”.  Semisal langit gelap di pagi hari hingga menghalangi pandangan ke pulau seberang  menjadi pertanda akan   datangnya gelombang.  Tak hanya itu, kebutuhan akan informasi yang lebih awal mengenai cuaca juga diperlukan dari institusi  resmi, dan masyarakat mengusulkan dibangunnya sistem  untuk mengakses informasi tersebut.

Hampir saja  suara perempuan terlewatkan, jika Usi Seli mengusulkan inisiatif    pembuatan  kebun sayur lokal.  Di tengah usulan peserta  yang didominasi  laki-laki,  usulan Usi Sel  merefleksikan bagaimana perempuan menerjemahkan  bagaimana seharusnya mereka beradaptasi.

Di Ameth, seperti di banyak tempat lain , perempuan memegang porsi peran  terbesar  dalam mengelola  pemenuhan pangan keluarga.   Karena  dilekatkan dengan tanggung jawab tersebut,  cara pandang perempuan menjadi berbeda.   Beradaptasi bagi mereka adalah memastikan kebutuhan pangan keluarga bisa terus tercukupi, terjaga variasi dan nutrisinya secara seimbang.   Gelombang tinggi tidak hanya memerlukan kesiapsiagaan, informasi dan infrastruktur penahan gelombang, namun juga tersedianya  pangan lokal secara kontinyu . Kebun sayur, merupakan ide yang sekilas nampak sederhana namun memberi jawaban segera sebagai bentuk adaptasi.

Menariknya, usulan sederhana tersebut akhirnya berkembang. Ide demi ide  bergulir sehingga usulan untuk meningkatkan keterampilan perempuan untuk pengolahan pangan tersuarakan dari forum yang bersahaja di Balai Negeri.

Usi Seli mungkin  tidak pernah menduga jika usulannya bisa terealisasi. Saat ini, di Negeri Ameth  tengah  berjalan  penerapan metode permakultur atau teknik pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk membudidayakan tanaman hortikultura. Aparat desa bekerja sama dengan USAID APIK untuk mewujudkan mimpi Usi Seli yang mewakili juga harapan perempuan lain Negeri Ameth. Melalui skema dana stimulan dari USAID APIK, usulan perempuan Ameth  untuk meningkatkan ketangguhan iklim sedang  bergulir.  Satu langkah untuk melibatkan perempuan dalam penyusunan rencana  tersebut menjadi titik mulainya.

Di tengah udara lembab Ameth dan  sengat matahari yang seketika  menggosongkan kulit, serta dalam kepolosan dan kesederhanaan yang melingkupi hidup warganya,  asa  perempuan Ameth muncul.  Tidak  lama lagi, masyarakat Ameth  dapat perlahan melepaskan sebagian  ketergantungan pada pasokan sayur-mayur  dari luar pulau.  Suara perempuan penting agar masyarakat tahu langkah-langkah adaptasi apa saja yang harus diambil. Jika saja Usi Seli tidak hadir pada rembuk tersebut, bisa jadi  kita tidak akan  mendengar usulan berharga tersebut. Dari  suara  Usi Seli, masyarakat Ameth menyongsong ketangguhannya.

(Penulis: Suryani Amin – Community-Based Climate Change Adaptation Advisor USAID APIK dan Maun Kusnandar – Community-Based Climate Change Adaptation Specialist USAID APIK)