Selasa, 5 Desember 2017

Suara Perempuan dari Negeri Ameth

Suara Perempuan dari Negeri Ameth
Suara Perempuan dari Negeri Ameth

Siang ini di Negeri Ameth, kami jadi tahu bagaimana perbedaan perempuan dan laki-laki dalam memaknai ketangguhan terhadap bencana dan iklim. Meskipun di dalam ruang kelas sudah kerap diajarkan, dan literatur yang sama juga banyak mengamini, kami girang karena akhirnya bisa mendapatkan bukti langsung di depan mata. Perlu waktu sekitar dua jam menyeberang dengan kapal reguler dari Ambon untuk sampai ke Negeri Ameth. Negeri-setingkat desa-ini posisinya di Kecamatan Nusalaut dan termasuk dalam jajaran Kepulauan Lease, berhadap langsung dengan Laut Lepas Banda. Negeri yang sungguh elok ini dihuni oleh 1.343 orang yang hidup guyub.

Musyawarah menentukan rencana aksi Negeri Allang dalam merespon risiko bencana dan iklim

Musyawarah menentukan rencana aksi Negeri Allang dalam merespon risiko bencana dan iklim

Peserta perempuan dalam musyawarah itu hanya usi-bahasa Ambon yang artinya panggilan untuk perempuan yang lebih muda atau nona-Seli dan Usi Astrid Sejatinya, tidak memenuhi kuota afirmasi yang kami harapkan, yaitu sekitar 30% partisipasi perempuan dari jumlah total. Keduanya adalah ibu rumah tangga. Selebihnya, sekitar 20 perwakilan masyarakat bergender laki-laki. Pertemuan tersebut melanjutkan seri diskusi sebelumnya dan masih termasuk dalam rangkaian pelaksanaan Kajian Risiko Bencana dan Dampak Perubahan Iklim.

Siang ini, tiga fasilitator, Bung Meike, Om Yosep dan Om Andre bersungguh-sungguh memandu usulan rencana masyarakat bisa selesai disusun. Tujuan akhirnya tentu mencapai ketangguhan terhadap ancaman bencana dan iklim. Meskipun tampak malu, Usi Seli dan Astrid mengambil tempat di barisan bangku terdepan.

Dari rangkuman hasil penggalian informasi sebelumnya, diketahui bahwa Negeri Ameth menghadapi ancaman serius gelombang tinggi dan abrasi. Dua ancaman ini menjadi prioritas untuk didorong upaya adaptasinya. Gelombang tinggi menimbulkan rantai dampak cukup panjang. Nelayan Ameth tidak bisa melaut, alat tangkap seperti perahu dan rumpon menjadi rusak. Gelombang tinggi juga mengganggu lalu lintas tranportasi antar pulau. Akibatnya tidak hanya pada mobilitas masyarakat, tapi juga menghambat pasokan pangan. Selama ini, jenis pangan tertentu seperti sayuran, lebih banyak mengandalkan dari sumber di luar Negeri Ameth. Dalam kondisi normal, secara reguler penduduk Ameth membeli sayuran dan jenis pangan lain yang dibawa dari Ambon dan Masohi. Gelombang tinggi menyebabkan kapal feri yang mengangkut dagangan tidak dapat beroperasi. Selama itu pula, masyarakat terpaksa mengandalkan sumber pangan dari dalam negeri yang terbatas variasinya. Dalam kondisi gelombang tinggi, pertumbuhan rumput laut yang jadi salah satu sumber andalan pendapata juga menjadi tergangg. Selain itu, gelombang tinggi menyebabkan sejumlah rumah rusak. Rasa tidak aman juga menyelemuti masyarakat selama gelombang tinggi.

Sejumlah peserta laki-laki mengusulkan pembangunan talud penahan ombak, peninggian talud dan penanaman bakau. Usulan lain yang mengemuka adalah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui pengetahuan tradisional untuk membaca gejala alam yang menjadi penanda akan datangnya gelombang tinggi. Dalam istilah lokal, pengetahuan tradisional ini disebut Nanaku yang berarti pertanda atau menandai. Contoh nanaku misalnya langit gelap di pagi hari yang menghalangi pandangan ke pulau seberang menjadi pertanda datangnya gelombang. Kebutuhan akan informasi yang lebih awal mengenai cuaca juga diperlukan dari institusi resmi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BPBD). Masyarakat mengusulkan dibangunnya sistem untuk mengakses informasi tersebut.

Hampir saja suara perempuan terlewatkan. Dari bangkunya dengan setengah tergagap Usi Seli mengusulkan pengadaan kebun sayur lokal. Di tengah usulan dari peserta yang didominasi laki-laki, intonasi rendah suara Usi Seli merefleksikan bagaimana perempuan menerjemahkan bagaimana seharusnya mereka beradaptasi.

Perempuan masih memegang peran terbesar dalam mengatur pemenuhan pangan keluarga. Karena lekat dengan tanggung jawab tersebut, cara pandang perempuan pun menjadi berbeda. Beradaptasi bagi mereka adalah memastikan kebutuhan pangan keluarga bisa terus terjaga secara seimbang. Gelombang tinggi tidak hanya memerlukan kesiapsiagaan akan informasi dan infrastruktur penahan gelombang, tetapi juga yang perlu disegerakan adalah tersedianya pangan lokal secara kontinu . Kebun sayur, ide yang sekilas nampak sederhana namun memberi jawaban segera untuk beradaptasi.

Menariknya, usulan “sederhana” tersebut akhirnya berkembang. Ide demi ide sewarna bergulir. Jadilah usulan untuk meningkatkan keterampilan perempuan untuk pengolahan pangan memanfaatkan potensi lokal tersuarakan dari forum yang bersahaja di Balai Negeri. Diantaranya termasuk pengolahan sagu untuk kue kering dan pengolahan hasil laut yang masih memungkinkan diperoleh.

Mengutip bisik pelan Usi Seli ketika ditanyai alasannya “….. katong seng bisa beli sayur kalau feri seng datang. Jadi beta pung usul kebun sayur.” (Kami tidak bisa membeli sayur kalua feri tidak datang. Jadi saya punya usul untuk ada kebun sayur)

Di tengah udara lembab Ameth dan sengat matahari yang menggosongkan kulit, dalam kepolosan dan kesederhanaan yang melingkupi hidup warganya, kami menemukan bukti yang dicari. Terkadang hal-hal sederhana yang di depan mata tidak terlihat oleh kaca mata biasa. Suara perempuan yang bergelut dengan masalah sehari-hari dan merasakan dampak langsung dari bencana haruslah mengemuka dan didengar agar tahu bagaimana seharusnya beradaptasi dan mulai dari hal kecil yang bisa dilakukan diri sendiri.

Ditulis oleh: Suryani Amin – Penasihat Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat dan Maun Kusnandar – Spesialis Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat